FK – Dalam beberapa tahun terakhir, kontestasi politik di Kota Kupang semakin memanas, terutama menjelang Pilkada yang akan datang. Mendaftarnya lima bakal pasangan calon (paslon) mencerminkan ruang demokrasi yang luas bagi putra-putri terbaik NTT. Namun, di balik semaraknya politik, muncul kritik tajam mengenai idealisme aktivis muda yang tampaknya mulai tergerus oleh kepentingan pragmatis.
Amir Kiwang, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, menyatakan bahwa meskipun banyaknya paslon menciptakan dinamika positif, hal ini juga menimbulkan potensi konflik yang perlu diwaspadai.
“Berbicara tentang konflik dalam ruang kontestasi politik, potensi konflik pasti selalu ada. Perbedaan politik di level atas dapat memengaruhi dinamika di akar rumput,” ungkap Amir dalam sebuah podcast.
Polarisasi dan Isu SARA
Amir mengungkapkan bahwa meskipun isu SARA di Kota Kupang saat ini dapat dikendalikan oleh pemilih yang rasional, namun potensi polarisasi masih ada.
“Isu SARA masih sangat sexy untuk dimainkan, meskipun mayoritas pemilih saat ini lebih rasional,” tambahnya.
Dia memperingatkan bahwa aktifis muda sering kali terjebak dalam dukungan yang tidak berdasarkan visi ideal, melainkan pada kepentingan jangka pendek.
Idealisme yang Memudar
Dalam pandangannya, banyak aktivis muda yang lebih memilih untuk mendukung kandidat berdasarkan hubungan personal atau organisasi, bukan berdasarkan aspirasi masyarakat.
“Banyak yang mengklaim sebagai pejuang rakyat, tetapi sebenarnya mereka tidak mengakar di bawah. Mereka lebih fokus pada apa yang diperintahkan senior mereka,” jelas Amir.
Fenomena ini mengisyaratkan bahwa idealisme yang seharusnya menjadi landasan pergerakan aktivis muda mulai tergeser oleh kepentingan pragmatis.
Amir mengutip pendapat Tan Malaka bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh para pemuda. Jika idealisme hilang, maka apa yang bisa dibanggakan oleh generasi muda?
Kemandirian Finansial dan Kritisitas
Amir juga menyoroti kurangnya kemandirian finansial di kalangan aktivis muda. Keterbatasan ini membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh luar, yang dapat mengurangi kritisitas dalam bersikap.
“Kelemahan ini membuat aktivis mudah terjebak dalam kegiatan yang tidak substantif,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa untuk berkontribusi nyata bagi bangsa dan daerah, aktivis muda harus mampu membawa gagasan dan ide yang inovatif, bukan sekadar mempertontonkan diri di depan kamera.
Menatap Masa Depan
Kritik Amir terhadap situasi ini menjadi pengingat bagi generasi muda untuk kembali pada prinsip-prinsip idealisme yang kuat. Sebagai aktivis, mereka harus berani melawan arus dan tidak hanya menjadi ornamen dalam kontestasi politik.
“Aktivis harus menyadari bahwa mereka tidak hanya dihargai karena penampilan, tetapi lebih pada kontribusi yang nyata bagi masyarakat,” tegas Amir.
Dengan segala tantangan yang ada, masa depan idealisme aktivis muda di Kota Kupang akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk mengintegrasikan aspirasi rakyat ke dalam politik. Jika tidak, mereka mungkin akan terjebak dalam siklus pragmatisme yang tidak akan membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat.
Kesimpulan
Sebagai penutup, kritik tajam terhadap idealisme aktivis muda di Kota Kupang harus menjadi refleksi bagi semua pihak. Kontestasi politik seharusnya menjadi arena bagi ide-ide yang brilian dan perjuangan yang murni, bukan sekadar permainan kekuasaan yang pragmatis.
Hanya dengan mengedepankan idealisme, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang sesungguhnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
