Mengapa Situationship Lebih Menyakitkan dari Putus Cinta? Psikolog Ungkap Penyebabnya
FHC, Patah hati biasanya identik dengan berakhirnya hubungan yang telah terjalin lama dan memiliki status yang jelas. Namun, tidak sedikit orang justru merasakan luka emosional yang jauh lebih dalam setelah mengakhiri situationship atau hubungan tanpa kepastian status.
Fenomena ini kerap membingungkan. Bagaimana mungkin hubungan yang berlangsung singkat dan bahkan tidak pernah resmi dapat meninggalkan kesedihan yang begitu besar?
Menurut para psikolog, rasa kehilangan dalam situationship bukanlah sesuatu yang berlebihan atau dibuat-buat. Sebaliknya, ada mekanisme psikologis yang membuat hubungan semacam ini justru lebih sulit dilupakan dibandingkan hubungan yang memiliki komitmen yang jelas.
Terapis Naomi Bernstein, PsyD, menjelaskan bahwa fase pendekatan yang penuh ketidakpastian menciptakan pola emosi yang naik turun secara ekstrem. Pada satu waktu seseorang dapat menerima perhatian, kasih sayang, dan kedekatan yang intens, namun di waktu lain harus menghadapi jarak, kebingungan, dan sinyal yang tidak konsisten.
“Ada romansa dan kesenangan yang penuh gairah, lalu beberapa hari berjarak, ada penghindaran, ketidakpastian, dan pesan yang campur aduk pada hari-hari lainnya,” ujarnya.
Pola seperti ini ternyata memengaruhi cara kerja otak. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai intermittent reinforcement atau penguatan intermiten, yaitu bentuk penghargaan yang diberikan secara tidak konsisten.
Alih-alih mengurangi ketertarikan, pola tersebut justru membuat seseorang semakin terikat secara emosional. Otak terus berharap mendapatkan kembali pengalaman menyenangkan yang pernah dirasakan sebelumnya.
Akibatnya, ketika hubungan berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan orang yang disukai, tetapi juga kehilangan sumber sensasi emosional yang selama ini memberikan rasa bahagia.
Terapis Lindsey Brock menyebut kondisi ini mirip dengan proses penghentian zat adiktif.
“Ketika kamu tidak lagi mendapatkan lonjakan dopamin, kamu hancur. Karena itu muncul perasaan depresi dan kecemasan atas orang yang memberi rasa mabuk kepayang itu,” katanya.
Selain dipengaruhi oleh mekanisme dopamin, rasa sakit akibat situationship juga berkaitan dengan waktu berakhirnya hubungan tersebut. Banyak hubungan tanpa status berakhir ketika kedua pihak masih berada dalam fase paling menyenangkan dari proses pendekatan.
Dalam psikologi hubungan, tiga bulan pertama sering disebut sebagai periode transisi antara fase ketertarikan intens dan fase keterikatan emosional yang lebih dalam. Pada tahap ini, seseorang mulai menginginkan kepastian mengenai arah hubungan.
Ironisnya, permintaan kejelasan status sering kali menjadi titik akhir dari hubungan itu sendiri.
Karena berakhir saat masih berada dalam fase romantis, banyak orang belum sempat melihat kekurangan, kebiasaan buruk, atau sisi realistis dari orang yang mereka sukai. Yang tersisa justru gambaran ideal dan harapan mengenai masa depan yang belum pernah benar-benar terjadi.
Menurut Brock, manusia secara alami sulit menerima ketidakpastian. Ketika informasi yang tersedia tidak lengkap, otak cenderung mengisi kekosongan tersebut dengan asumsi, harapan, dan skenario yang dianggap paling menyenangkan.
Akibatnya, yang diratapi bukan hanya hubungan yang berakhir, tetapi juga masa depan yang dibayangkan bersama orang tersebut.
Faktor lain yang membuat proses pemulihan menjadi lebih berat adalah kecenderungan untuk meremehkan perasaan sendiri. Banyak orang merasa tidak berhak bersedih karena hubungan tersebut tidak pernah resmi atau berlangsung terlalu singkat.
Padahal, para ahli menilai bahwa menyangkal kesedihan justru memperpanjang proses penyembuhan.
“Menghakimi perasaan kita membuatnya makin sulit untuk memproses dan melepaskannya,” tegas Brock.
Ia menjelaskan bahwa hubungan yang singkat tetap dapat memicu kesedihan, rasa ditolak, kekecewaan, hingga kehilangan harapan terhadap masa depan yang sebelumnya diinginkan.
Karena itu, para psikolog mengingatkan bahwa rasa sedih setelah berakhirnya situationship adalah respons yang wajar. Durasi hubungan maupun status formal tidak selalu menentukan kedalaman emosi yang terlibat di dalamnya.
Pada akhirnya, yang perlu diakui bukanlah seberapa lama hubungan itu berlangsung, melainkan seberapa besar harapan, perhatian, dan perasaan yang pernah diberikan. Dengan menerima bahwa kehilangan tersebut nyata, proses pemulihan dapat berjalan lebih sehat dan lebih cepat.
