Menguji 9 Cluster Pembangunan Lembata 2025–2030: Critical Success Factor Penentu Sukses Visi Nelayan–Tani–Ternak

Oleh: Mateus Mas Belalawe, S.Kom., M.T., (Praktisi Pembangunan)

FHC, Visi besar “Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing” yang diusung Bupati Petrus Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir merupakan arah pembangunan yang ambisius sekaligus realistis. Visi tersebut diterjemahkan melalui enam misi, delapan tema pembangunan, serta 20 program unggulan dengan identitas Nelayan–Tani–Ternak (NTT).

Namun, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak pernah diukur dari banyaknya program yang tertulis dalam dokumen perencanaan. Sejarah pembangunan daerah di Indonesia menunjukkan bahwa banyak RPJMD gagal bukan karena kekurangan ide, melainkan karena lemahnya eksekusi.

Di sinilah konsep Critical Success Factor (CSF) menjadi penting. CSF adalah faktor-faktor kunci yang wajib dipenuhi agar tujuan strategis benar-benar tercapai.

Meskipun RPJMD Lembata 2025–2029 tidak secara resmi membagi pembangunan dalam sembilan klaster, substansi dokumen tersebut dapat dipetakan ke dalam sembilan klaster prioritas yang memudahkan pengukuran keberhasilan.

1. Ketahanan Pangan Tidak Cukup dengan Food Estate

Program Food Estate lahan kering yang dikembangkan di kawasan Botani (Bobu–Tanjung Leur–Tobotani), ekspansi lahan pertanian, hingga cetak sawah Waikomo merupakan langkah strategis.

Namun persoalan terbesar Lembata bukanlah luas lahan.

Masalah utamanya adalah air.

Sebagian besar wilayah memang memiliki topografi yang memungkinkan untuk pertanian, tetapi musim hujan efektif hanya berlangsung sekitar empat bulan setiap tahun. Tanpa embung, bendungan kecil, sistem irigasi, dan konservasi air, produktivitas pertanian akan tetap rendah.

Keberhasilan bukan diukur dari hektare lahan yang dibuka, melainkan dari peningkatan produktivitas, indeks pertanaman, dan kemampuan petani menghasilkan panen sepanjang tahun.

Food Estate harus berkembang menjadi kawasan agribisnis, bukan sekadar proyek pembukaan lahan.

2. Peternakan Harus Berbasis Industri

Pengembangan Bukit Cinta, Bukit Hog, hingga kawasan peternakan ruminansia merupakan langkah yang berani.

Target ekspor ternak ke Timor Leste juga membuka peluang pasar baru.

Namun terdapat satu persoalan klasik.

Biaya pakan masih menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan.

Tanpa industri pakan lokal, peternak akan tetap bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga biaya produksi sulit ditekan.

Pemerintah juga tidak boleh terjebak menjadi pembeli ternak.

Peran yang lebih strategis adalah membangun rantai pasok, memperkuat sistem karantina, menjamin kesehatan hewan, serta membuka akses pasar.

Ukuran keberhasilan bukan banyaknya kandang yang dibangun, melainkan meningkatnya pendapatan peternak.

3. Ekonomi Biru Tidak Akan Berjalan Tanpa Cold Chain

Dengan garis pantai sekitar 492 kilometer, Lembata memiliki modal besar dalam sektor kelautan.

Program Kampung Nelayan Merah Putih, pembangunan SPBN, pabrik es, hingga industri tepung ikan merupakan fondasi yang tepat.

Tetapi seluruh investasi tersebut akan kehilangan nilai apabila nelayan masih kesulitan memperoleh BBM bersubsidi dan sistem rantai dingin (cold chain) belum berjalan.

Ikan adalah komoditas yang sangat bergantung pada kecepatan distribusi.

Karena itu, pelabuhan, transportasi laut, logistik, dan kepastian kuota BBM menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding pembangunan fisik semata.

4. Hilirisasi Menentukan Masa Depan UMKM

Rencana membangun industri garam, air minum, pakan ternak, porang, hingga penguatan Koperasi Desa Merah Putih merupakan langkah menuju hilirisasi ekonomi.

Namun data menunjukkan bahwa PAD Lembata beberapa tahun terakhir justru mengalami tren penurunan.

Artinya, aktivitas ekonomi lokal belum mampu menjadi sumber penerimaan daerah.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah koperasi yang berdiri.

Yang jauh lebih penting adalah berapa koperasi yang memiliki model bisnis, memperoleh pembiayaan, menguasai pemasaran digital, dan berhasil menjual produknya hingga keluar daerah.

5. Infrastruktur Harus Menjawab Kondisi Geografis

Lembata memiliki karakter geografis yang kompleks.

Wilayah pegunungan, daerah rawan longsor, kawasan pesisir, hingga desa-desa terpencil membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda.

Pembangunan jalan, irigasi, listrik, maupun air bersih tidak boleh menggunakan pendekatan seragam.

Quick win pembangunan jalan Labala–Lebaata dapat menjadi contoh bagaimana konektivitas mampu membuka akses ekonomi masyarakat pesisir.

Infrastruktur yang baik bukan hanya mempercepat mobilitas, tetapi juga menurunkan biaya logistik.

6. SDM Menjadi Penentu Daya Saing

Pembangunan manusia selalu menjadi investasi jangka panjang.

Penanganan stunting, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan primer, hingga perlindungan sosial adaptif harus menjadi prioritas.

Persoalan terbesar bukan hanya keterbatasan fasilitas.

Yang lebih mendasar adalah distribusi guru dan tenaga kesehatan yang belum merata.

Digitalisasi sekolah, layanan kesehatan berbasis teknologi, serta peningkatan kompetensi SDM akan menjadi penentu keberhasilan.

Gedung baru tidak akan berarti apabila kualitas pelayanan tidak ikut meningkat.

7. Reformasi Tata Kelola Menjadi Pondasi

Salah satu tantangan terbesar Lembata adalah tingkat ketergantungan yang masih tinggi terhadap dana transfer pemerintah pusat.

Kemandirian fiskal masih relatif rendah.

Karena itu, reformasi birokrasi harus berjalan bersamaan dengan digitalisasi pelayanan publik, e-katalog, transparansi pengadaan, dan penguatan pengawasan internal.

Peringatan Bupati kepada ASN mengenai integritas merupakan langkah positif.

Namun perubahan budaya birokrasi memerlukan sistem yang mampu mencegah penyimpangan, bukan sekadar mengandalkan komitmen individu.

8. Lingkungan Tidak Boleh Dikorbankan

Pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus berjalan bersamaan.

Potensi panas bumi Atadei dapat menjadi sumber energi masa depan.

Namun pendekatan pembangunan harus mengedepankan dialog dengan masyarakat.

Prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) menjadi penting agar pembangunan tidak memunculkan konflik sosial.

Di sisi lain, rehabilitasi daerah aliran sungai serta konservasi kawasan hulu menjadi investasi jangka panjang bagi ketahanan air dan pangan.

9. Pariwisata Membutuhkan Ekosistem

Lembata memiliki budaya yang unik, tenun ikat, desa wisata, serta festival yang berpotensi menjadi daya tarik nasional.

Namun kontribusi sektor akomodasi dan makan minum terhadap PDRB masih sangat kecil.

Ini menunjukkan bahwa potensi wisata belum berubah menjadi kekuatan ekonomi.

Pariwisata tidak cukup dipromosikan melalui festival.

Diperlukan akses transportasi yang memadai, jadwal penerbangan yang stabil, pelabuhan yang representatif, hotel yang berkualitas, serta kalender event yang konsisten.

Keunikan budaya hanya akan menghasilkan nilai ekonomi apabila mudah diakses wisatawan.

Tiga CSF Penentu Keberhasilan

Dari sembilan klaster tersebut, terdapat tiga faktor lintas sektor yang akan menentukan berhasil atau tidaknya seluruh agenda pembangunan.

Pertama, integrasi Air–Energi–Pangan harus menjadi satu ekosistem pembangunan. Air menopang pertanian, energi mendukung industri, dan pangan menjadi hasil akhirnya. Ketiganya tidak bisa direncanakan secara terpisah.

Kedua, kepastian pasar harus hadir sebelum produksi dilakukan. Pemerintah perlu memastikan adanya kontrak dengan offtaker, BUMDes, koperasi, maupun pasar ekspor seperti Timor Leste sehingga petani, nelayan, dan peternak memiliki jaminan penjualan hasil produksi.

Ketiga, tata kelola berbasis data dan pengawasan publik harus diperkuat. RPJMD telah memberikan arah yang baik, tetapi keberhasilan akan ditentukan oleh implementasi RKPD setiap tahun. Dashboard kinerja yang dapat diakses masyarakat akan meningkatkan akuntabilitas sekaligus memastikan setiap program berjalan sesuai target.

Penutup

Pada akhirnya, keberhasilan pemerintahan Petrus Kanisius Tuaq dan Muhamad Nasir tidak akan dinilai dari tebalnya dokumen RPJMD ataupun banyaknya program unggulan yang diluncurkan.

Masyarakat akan menilai dari perubahan nyata yang mereka rasakan: meningkatnya pendapatan nelayan, bertambahnya hasil panen petani, berkembangnya usaha peternak, membaiknya layanan pendidikan dan kesehatan, serta meningkatnya kesempatan kerja.

Jika tiga Critical Success Factor tersebut mampu dijalankan secara konsisten, maka slogan Nelayan–Tani–Ternak tidak berhenti sebagai jargon politik pembangunan, melainkan menjadi fondasi transformasi ekonomi daerah yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong kenaikan PDRB per kapita Lembata menuju target Rp23,89 juta pada 2029.

Visi besar membutuhkan keberanian. Namun lebih dari itu, visi besar membutuhkan disiplin dalam eksekusi. Di situlah masa depan pembangunan Lembata benar-benar akan ditentukan.