Ia juga berdialog panjang dengan Prof. Dr. Fredrik L. Benu, mantan Rektor Undana dan Ketua Senat Universitas Nusa Cendana (Undana), terkait strategi pendidikan dan SDM unggul sebagai basis transformasi kawasan timur Indonesia.
Tidak berhenti di sana, rangkaian diskusi melebar ke berbagai lapisan masyarakat: dari akademisi, praktisi, LSM, jurnalis, hingga organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra kampus. Dialog ini menjadi refleksi nyata dari upaya membangun kebijakan publik yang tidak hanya dari atas ke bawah (top-down), tetapi juga dari bawah ke atas (bottom-up), dengan melibatkan masyarakat sipil secara aktif.
Paradigma “Membangun Indonesia dari NTT dan Kawasan” bukanlah slogan kosong, melainkan ajakan strategis untuk menjadikan daerah perbatasan, kepulauan, dan kawasan tertinggal sebagai titik tolak pembangunan nasional.
Firman Jaya Daeli menekankan bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh lagi terpusat di Jawa atau kota-kota besar saja. “Saatnya Indonesia dibangun dari kawasan seperti NTT yang memiliki potensi besar, dari manusia, budaya, hingga geopolitik strategis,” ungkapnya.
