Menurut Destry, selama bertahun-tahun keberhasilan sektor keuangan sering diukur dari tingginya pertumbuhan kredit. Namun, indikator tersebut belum tentu mencerminkan kualitas pembangunan ekonomi apabila kredit belum mampu menciptakan produktivitas yang lebih tinggi.
Karena itu, Bank Indonesia mendorong perubahan paradigma dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas.
Transformasi berikutnya adalah mengubah pendekatan pembiayaan yang selama ini lebih berorientasi pada individu menjadi pembiayaan berbasis ekosistem. Dalam pendekatan ini, pembiayaan tidak hanya diberikan kepada satu pelaku usaha, tetapi juga memperkuat hubungan antara produsen, pemasok, distributor, hingga pasar sehingga tercipta rantai nilai yang lebih efisien.
Selain itu, BI juga mendorong perubahan dari berbagai program yang berjalan sendiri-sendiri menuju orkestrasi nasional yang melibatkan pemerintah, otoritas keuangan, industri perbankan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Bukan lagi masing-masing bekerja sendiri, tetapi membangun sinergi agar pembiayaan benar-benar mampu menggerakkan sektor produktif,” menjadi semangat yang diusung dalam kebijakan tersebut.
