Namun secara tahunan, data menunjukkan tantangan yang lebih besar. Sepanjang 2025 hingga 31 Desember, nonresiden tercatat jual neto Rp17,00 triliun di pasar saham dan Rp110,11 triliun di SRBI, sedangkan beli neto di pasar SBN hanya Rp2,01 triliun. Angka ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik belum sepenuhnya pulih, khususnya pada instrumen jangka pendek berbasis Rupiah.

Situasi tersebut menempatkan Bank Indonesia pada posisi krusial. Stabilitas Rupiah ke depan tidak hanya bergantung pada intervensi pasar valas, tetapi juga pada efektivitas bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta kekuatan koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait.

Awal 2026 menjadi momentum penting untuk menguji kredibilitas kebijakan. Rupiah memang masih terkendali, namun tekanan eksternal yang persisten membuat ruang stabilitas semakin sempit. Dalam konteks ini, konsistensi kebijakan dan komunikasi yang kuat akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.