Secara akademik, inisiatif PJKR ini menunjukkan penerapan pendekatan experiential learning, yaitu model pembelajaran yang menekankan pengalaman nyata sebagai sarana internalisasi nilai dan keterampilan. Turnamen ini berfungsi sebagai co-curricular laboratory tempat mahasiswa mempraktikkan teori keolahragaan, manajemen pertandingan, kepemimpinan, serta etika kompetisi.

Bahtera sebagai Arsitektur Simbolik dan Pedagogik

Pelaksanaan turnamen ini di Auditorium Bahtera UKAW, gedung olahraga indoor berarsitektur menyerupai bahtera, memberikan nilai tambah simbolik dan pedagogik. Pdt. Beeh menjelaskan bahwa bahtera bukan sekadar bentuk fisik, tetapi juga sebuah narasi spiritual dan akademik mengenai proses pembentukan manusia baru.

Dalam perspektif transformative learning theory, bahtera dapat dipahami sebagai medium pendidikan yang memungkinkan terjadinya perubahan perspektif, pembentukan habitus baru, serta internalisasi nilai-nilai moral.

Menurut Pdt. Beeh, “Bahtera ini adalah alat Tuhan untuk melahirkan manusia baru,” sebuah pernyataan yang menggarisbawahi bahwa ruang olahraga ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas fisik, tetapi sebagai value incubation space, ruang inkubasi nilai.