Kinerja ini menunjukkan daya tahan sektor eksternal Indonesia, khususnya di tengah perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas internasional. Namun, ketergantungan pada ekspor berbasis SDA kembali menegaskan persoalan lama struktur perdagangan Indonesia. Nilai tambah yang masih terbatas dan dominasi komoditas mentah atau setengah jadi membuat kinerja ekspor rentan terhadap siklus harga global.
Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas mencatat defisit sebesar 1,98 miliar dolar AS pada November 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan defisit ini sejalan dengan naiknya impor migas di tengah penurunan ekspor migas. Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih dibayangi oleh ketergantungan energi impor.
Secara struktural, defisit migas telah menjadi “beban laten” neraca perdagangan Indonesia selama bertahun-tahun. Ketika harga minyak dunia naik atau permintaan domestik meningkat, tekanan terhadap neraca perdagangan pun tak terhindarkan. Surplus nonmigas yang kuat kerap digunakan untuk menutup defisit migas, sehingga surplus total terlihat sehat, tetapi fondasinya belum sepenuhnya kokoh.
