FK, Kepala BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Matamira B. Kale, S.Si, M.M., menyampaikan pada bulan Januari 2025, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai angka 101,60, mengalami kenaikan signifikan sebesar 0,63% dibandingkan dengan bulan Desember 2024.

“Angka ini menjadi pencapaian penting, karena menandakan perbaikan kondisi ekonomi di sektor pertanian yang vital bagi banyak petani di daerah ini”, ujar Matamira.

Menurutnya, NTP dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Terima yang mencakup lima subsektor utama: padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Pada Januari 2025, hampir seluruh subsektor mengalami perkembangan positif, dengan kenaikan yang lebih signifikan di beberapa subsektor, meskipun subsektor peternakan menunjukkan stabilitas.

Kinerja Positif Sektor Perkebunan dan Peternakan

Salah satu subsektor yang mencatatkan kinerja terbaik adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat, dengan NTP mencapai 104,54, menunjukkan bahwa sektor ini semakin menguntungkan bagi petani. Selain itu, subsektor peternakan juga menunjukkan performa yang stabil dengan NTP mencapai 107,89, yang menunjukkan daya beli peternak masih cukup kuat di awal tahun 2025.

Kenaikan ini didorong oleh indeks harga terima yang lebih cepat dibandingkan dengan indeks harga bayar, yang artinya pendapatan petani dan peternak tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi mereka. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi yang positif di sektor pertanian, meskipun tantangan tetap ada, seperti harga input produksi yang cenderung fluktuatif.

Sektor Perikanan dan Hortikultura Menghadapi Tantangan

Namun, tidak semua subsektor menunjukkan tren positif. Sektor perikanan mengalami penurunan dengan NTP yang hanya mencapai 93,44, yang menunjukkan adanya tekanan harga yang dihadapi oleh para petani ikan. Begitu pula dengan subsektor hortikultura, yang tercatat memiliki NTP sebesar 98,55, meskipun mengalami sedikit penurunan, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan distribusi dan biaya operasional yang cukup tinggi.

Di luar subsektor, angka inflasi juga menjadi perhatian. Terjadi inflasi kecil sebesar 0,01% di daerah perdesaan, yang terutama dipicu oleh kenaikan harga pada subkelompok makanan, minuman, dan tembakau. Meskipun kecil, inflasi ini menggambarkan adanya peningkatan harga yang bisa mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama di sektor konsumsi dasar.

“Secara keseluruhan, pencapaian NTP NTT di Januari 2025 menjadi sinyal positif bagi perekonomian petani dan peternak. Kenaikan 0,63% ini mencerminkan adanya optimisme di sektor pertanian, dengan subsektor perkebunan dan peternakan yang menunjukkan perkembangan yang solid. Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat terus mendukung sektor ini dengan kebijakan yang tepat, guna memperkuat daya saing produk pertanian NTT di pasar domestik dan internasional”, tutup Matamira.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.