“Jika memungkinkan, kita akan mengadakan evaluasi di bulan April untuk melihat hasil dari pelatihan ini dan bagaimana penerapannya di lapangan,” tambahnya.

Selain itu, program ini diharapkan dapat berkembang ke wilayah lain di NTT yang juga menghadapi tantangan iklim serupa.

Masyarakat Diharapkan Lebih Proaktif

Dalam menghadapi krisis iklim, Wabup Aurum mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih proaktif dalam memahami perubahan iklim dan mengambil langkah preventif. Masyarakat diminta untuk memanfaatkan informasi cuaca yang diberikan BMKG, menerapkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, serta aktif dalam program edukasi lingkungan.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah atau BMKG saja. Kita semua harus terlibat. Krisis iklim berdampak pada kehidupan kita semua, jadi kita harus hadapi bersama,” pungkasnya.

Dengan adanya Sekolah Lapang Iklim dan sinergi antara pemerintah, BMKG, dan masyarakat, diharapkan Kabupaten Kupang semakin siap menghadapi tantangan iklim ekstrem.

Program ini menjadi bukti bahwa tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim bisa dimulai dari tingkat lokal dengan kolaborasi yang kuat.