Agustinus Brewon Bongkar Strategi Stevano Rizki Adranacus Bangun SDM Unggul di Tengah Disrupsi Teknologi

FHC, KUPANG – Politisi PDI Perjuangan, Agustinus L. Brewon, memaparkan strategi yang tengah dijalankan Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan, Stevano Rizki Adranacus, dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Nusa Tenggara Timur (NTT) di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan transformasi digital global.

Strategi tersebut diungkapkan Agustinus Brewon saat mewakili Stevano Rizki Adranacus dalam kegiatan Workshop Bina Talenta bertema Artificial Intelligence (AI), Inovasi Digital dan Kewirausahaan Mahasiswa untuk Mewujudkan Generasi Unggul Indonesia Emas 2045 bersama Civitas Akademia Universitas Karyadarma (Undarma), Kupang, Senin (7/7/2026).

Dalam pemaparannya, Agustinus menegaskan bahwa penguatan kualitas SDM menjadi agenda prioritas yang diperjuangkan Stevano Rizki Adranacus sejak ditugaskan di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, sains, teknologi, olahraga, serta kebudayaan.

Menurut Agustinus, perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pendidikan dan dunia kerja. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan adaptif terhadap perubahan teknologi.

“Disrupsi teknologi bukan lagi sesuatu yang akan datang, tetapi sudah terjadi. Karena itu, mahasiswa harus dibekali dengan kemampuan digital, pemahaman kecerdasan buatan, inovasi, dan kewirausahaan agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” kata Agustinus.

stevano-rizki-adranacus-dorong-mahasiswa-ntt-kuasai-ai-dan-inovasi-digital-untuk-wujudkan-indonesia-emas-2045
Stevano Rizki Adranacus Dorong Mahasiswa NTT Kuasai AI dan Inovasi Digital untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Ia menjelaskan, Stevano Rizki Adranacus memandang pengembangan SDM sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing daerah di masa depan. Oleh karena itu, berbagai program pendidikan dan penguatan kapasitas mahasiswa terus didorong melalui kemitraan dengan kementerian terkait.

Agustinus mengungkapkan bahwa setelah berpindah dari Komisi III ke Komisi X pada Januari 2026, Stefano mulai melakukan pemetaan berbagai persoalan pendidikan tinggi di NTT.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah berdialog langsung dengan pimpinan sejumlah perguruan tinggi untuk menyerap aspirasi dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi kampus-kampus di daerah.

Hasil pertemuan tersebut menunjukkan sejumlah persoalan mendasar yang masih menjadi hambatan dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi, antara lain keterbatasan fasilitas laboratorium, minimnya dukungan infrastruktur pembelajaran, persoalan sertifikasi dosen, hingga keterbatasan akses mahasiswa terhadap bantuan pendidikan.

“Pak Stevano ingin mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi perguruan tinggi, terutama kampus swasta yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan tinggi di NTT,” ujarnya.

Dalam konteks pembangunan SDM, Agustinus menilai keberadaan teknologi kecerdasan buatan atau AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung peningkatan kualitas pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI yang tidak tepat berpotensi menurunkan kualitas proses belajar apabila hanya digunakan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas akademik. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, mempercepat akses informasi, dan meningkatkan produktivitas akademik.

“AI harus menjadi alat bantu untuk memperkaya pengetahuan dan mempercepat proses belajar, bukan menggantikan kemampuan analisis dan kreativitas manusia,” katanya.

Selain penguatan kapasitas digital, Stevano Rizki Adranacus juga mendorong perluasan akses pendidikan melalui berbagai program afirmasi. Salah satunya adalah pengawalan Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Menurut Agustinus, dalam kurun waktu lima bulan terakhir, Stevano berhasil memperjuangkan sekitar 32.000 penerima PIP di NTT. Program tersebut diarahkan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan melalui pendekatan berbasis data dan verifikasi lapangan.

Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan pendidikan harus dilakukan secara objektif, transparan, dan berkeadilan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang paling rentan secara ekonomi.

“Prinsip yang selalu disampaikan Pak Stefano adalah bantuan pendidikan harus diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan berdasarkan kedekatan atau kepentingan politik,” ujarnya.

Selain itu, sekitar 700 kuota KIP Kuliah juga tengah diperjuangkan untuk memperluas kesempatan mahasiswa NTT mengakses pendidikan tinggi. Program tersebut diharapkan dapat menekan angka putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi sekaligus meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi di daerah.

Agustinus juga menyoroti pentingnya afirmasi kebijakan bagi wilayah Indonesia Timur, khususnya NTT. Menurutnya, pemerintah pusat perlu memberikan perhatian khusus terhadap perguruan tinggi swasta yang selama ini berkontribusi besar dalam meningkatkan akses pendidikan masyarakat.

Ia menilai kebijakan pendidikan nasional tidak dapat diterapkan secara seragam karena terdapat perbedaan kapasitas dan kondisi antarwilayah. Oleh sebab itu, pendekatan afirmatif diperlukan untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan.

“Tidak bisa semua daerah diperlakukan sama. Kampus-kampus di NTT menghadapi tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan dukungan dan kebijakan yang lebih berpihak,” kata Agustinus.

Lebih jauh, Stevano juga mendorong peningkatan kompetensi dosen melalui berbagai program pelatihan terkait kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), komputasi awan (cloud computing), dan teknologi digital lainnya. Langkah tersebut dinilai penting agar transformasi digital tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tetapi juga pada tenaga pendidik sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran.

Workshop Bina Talenta yang digelar di Undarma menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital.

Agustinus menegaskan bahwa visi besar Stevano Rizki Adranacus adalah menciptakan generasi muda NTT yang unggul, inovatif, dan mampu berkompetisi di era ekonomi digital menuju Indonesia Emas 2045.

“Pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas manusianya. Karena itu investasi terbesar yang harus dilakukan hari ini adalah investasi pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia,” pungkasnya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.