Air Mata Perpisahan dan Harapan Baru di Noelbaki: Bupati Kupang Nilai Gereja Mitra Penting Membangun Karakter Masyarakat

FHC, NOELBAKI – Ada suasana yang sulit disembunyikan di Gereja GMIT Narwastu Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Minggu (5/7/2026). Di antara puji-pujian dan doa syukur, terselip rasa haru yang mendalam. Air mata perpisahan mengiringi berakhirnya masa pelayanan Pendeta Jane Tuulima-Konay, S.Th, sementara sukacita menyambut awal pelayanan Pendeta Jhon Tani Famaney, S.Th.

Namun lebih dari sekadar seremoni pergantian pelayan gereja, momentum pisah sambut tersebut sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih luas tentang pentingnya kepemimpinan rohani dalam membangun kehidupan sosial masyarakat. Pesan itu pula yang ditekankan Bupati Kupang saat menghadiri langsung acara tersebut.

Bagi Bupati Kupang, perpindahan tugas seorang pendeta bukan hanya bagian dari mekanisme organisasi gereja, melainkan wujud panggilan pelayanan yang harus diterima sebagai bagian dari rencana Tuhan. Karena itu, ia mengajak jemaat untuk melihat mutasi pelayanan sebagai proses pertumbuhan, baik bagi pelayan maupun bagi jemaat yang dilayani.

“Saya mengucapkan selamat kepada kedua pendeta yang hari ini melakukan serah terima jabatan. Semoga selalu diberkati dalam tugas dan pelayanan di tempat yang baru. Percayalah, Tuhan yang mengutus, Tuhan juga yang akan menyertai,” ujar Bupati Kupang.

Pernyataan tersebut mengandung makna penting bahwa keberhasilan pelayanan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat atau situasi, tetapi oleh kesediaan untuk menjalankan panggilan dengan setia. Dalam perspektif pembangunan daerah, kehadiran para pemimpin rohani juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter masyarakat yang berintegritas, beretika, dan memiliki kepedulian sosial.

Gereja dan Pembangunan Manusia

Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari persoalan ekonomi, pergeseran nilai sosial, hingga tantangan generasi muda, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Gereja juga menjadi ruang pembinaan moral dan spiritual yang berkontribusi terhadap pembangunan manusia.

Karena itu, pergantian pelayan jemaat sesungguhnya merupakan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan yang sehat. Organisasi gereja membutuhkan penyegaran agar pelayanan dapat terus berkembang dan menjawab kebutuhan zaman.

Ketua Majelis Klasis Kupang Tengah, Pdt. Alfred Waangsar, mengingatkan bahwa mutasi dalam tubuh gereja adalah sesuatu yang lumrah dan merupakan bagian dari perjalanan iman.

Menurutnya, setiap perpindahan tugas harus dimaknai sebagai kesempatan untuk merefleksikan kasih Tuhan yang bekerja melalui berbagai dinamika kehidupan.

“Para pendeta harus menerima tugas ini dengan iman dan sukacita. Dinamika pelayanan pasti ada, tetapi percayalah Tuhan pasti menolong,” pesannya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan gerejawi tidak selalu berjalan dalam situasi yang mudah. Tantangan, perbedaan karakter jemaat, hingga perubahan lingkungan sosial menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi setiap pelayan Tuhan.

Tujuh Tahun yang Meninggalkan Jejak

Bagi jemaat GMIT Narwastu Noelbaki, perpisahan dengan Pdt. Jane Tuulima-Konay bukanlah perkara sederhana. Selama tujuh tahun, ia tidak hanya hadir sebagai pemimpin rohani, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup jemaat dalam berbagai suka dan duka.

Tidak mengherankan jika suasana haru begitu terasa ketika dirinya menyampaikan pesan perpisahan.

Dengan suara yang bergetar, ia mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan melayani yang diberikan Tuhan selama tujuh tahun terakhir.

“Saya bersama keluarga sangat bersyukur kepada Tuhan. Hanya karena karya dan kekuatan dari-Nya, saya bisa konsisten melayani jemaat di sini selama tujuh tahun,” ungkapnya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan bahwa pelayanan bukan semata pekerjaan, melainkan perjalanan pengabdian yang dibangun melalui relasi, kepercayaan, dan kasih yang tumbuh bersama jemaat.

Menyambut Babak Baru Pelayanan

Di sisi lain, kehadiran Pdt. Jhon Tani Famaney menandai dimulainya babak baru bagi GMIT Narwastu Noelbaki. Harapan baru pun tumbuh di tengah jemaat agar pelayanan yang telah dibangun selama ini dapat terus berkembang.

Pergantian kepemimpinan dalam gereja sejatinya bukan tentang siapa yang datang atau siapa yang pergi. Yang terpenting adalah kesinambungan pelayanan agar gereja tetap menjadi rumah bersama yang menghadirkan kasih, pengharapan, dan penguatan bagi umat.

Momentum pisah sambut di Noelbaki menjadi gambaran bahwa pelayanan gereja bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang kesinambungan misi untuk melayani sesama. Air mata yang mengalir pada hari itu bukan hanya tanda perpisahan, tetapi juga ungkapan syukur atas perjalanan yang telah dilalui bersama.

Sementara sukacita yang hadir menjadi simbol harapan bahwa Tuhan akan terus berkarya melalui setiap pelayan yang diutus-Nya untuk melayani umat di tempat dan waktu yang berbeda.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan Bupati Kupang menjadi relevan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan ekonomi. Pembangunan karakter, spiritualitas, dan nilai-nilai kemanusiaan yang terus dipelihara oleh lembaga keagamaan juga merupakan fondasi penting bagi terwujudnya masyarakat Kabupaten Kupang yang harmonis, tangguh, dan berdaya saing.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.