Tekanan itu diperkirakan akan membuat bank-bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan Federal Reserve diperkirakan belum akan menurunkan suku bunga hingga akhir 2026.
Situasi tersebut membuat ruang gerak negara berkembang menjadi semakin sempit. Karena itu, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Selain fokus pada stabilitas, BI juga terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran. Volume transaksi QRIS pada April 2026 tumbuh lebih dari 108 persen secara tahunan, menunjukkan percepatan transformasi ekonomi digital nasional.
Bank Indonesia bahkan menargetkan jumlah merchant QRIS mencapai 47 juta pada 2026. Konektivitas pembayaran lintas negara melalui QRIS juga diperluas ke Tiongkok setelah sebelumnya terhubung dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan.
Di tengah tekanan global yang semakin kompleks, langkah BI kali ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas Rupiah bukan sekadar urusan kurs mata uang. Lebih jauh, stabilitas nilai tukar menjadi fondasi penting untuk menjaga inflasi, daya beli masyarakat, ketahanan sektor keuangan, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.
