Ia juga menekankan bahwa Bank NTT sebagai bank pembangunan daerah memiliki fondasi yang kuat. Mengacu pada pengalaman krisis ekonomi 1998, ia menyebut bank-bank pembangunan daerah relatif lebih stabil dibanding sejumlah bank nasional yang kolaps saat itu.
“Bank NTT adalah milik pemerintah daerah dan masyarakat NTT. Kepercayaan publik adalah modal utama kami,” kata Charlie.
Komitmen Perbaikan Layanan
Charlie tidak menutup mata terhadap tantangan internal, terutama dalam hal budaya pelayanan. Ia mengakui sistem dan teknologi Bank NTT sudah kompetitif, tetapi perbaikan proses dan budaya layanan tetap menjadi prioritas.
“Kami terus berbenah. Jika ada kekurangan pelayanan, mohon diberi masukan. Kami berkomitmen memperbaiki diri,” ujarnya.
Melalui sinergi dengan pemerintah daerah, termasuk kerja sama dengan Dinas PUPR Provinsi NTT, Bank NTT diharapkan dapat memperluas peran dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.
“Bank ini harus berjalan di trek yang benar dan memberi manfaat bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan ekonomi lemah,” kata Charlie menutup sambutannya.
