Melalui proyek pembangunan ruang HMP Teknik Sipil, para peserta memperoleh kesempatan mengaplikasikan keterampilan yang telah dipelajari di kelas dalam kondisi kerja nyata.

Hasil kerja mereka nantinya akan dievaluasi dan menjadi dasar pemberian sertifikat kompetensi.

Dokumen tersebut dapat menjadi nilai tambah ketika mereka memperoleh kesempatan untuk melanjutkan hidup di negara lain melalui program resettlement.

Namun pelaksanaan program juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pengelolaan logistik dan koordinasi pekerjaan.

Yawari, salah seorang peserta, mengaku masih terdapat keterlambatan distribusi material yang memengaruhi ritme pekerjaan.

Ia berharap evaluasi yang dilakukan dapat menghasilkan sistem kerja yang lebih efektif pada pelaksanaan tahap berikutnya.

Menanggapi hal itu, pihak Undana memastikan seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi bersama IOM.

Program tahap kedua bahkan telah dipersiapkan untuk menjangkau kelompok pengungsi lain yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.