Selain kerusakan saraf, pijatan pada area patah tulang juga berisiko menyebabkan cedera pembuluh darah yang dapat memicu sindrom kompartemen. Kondisi ini terjadi ketika tekanan di dalam otot meningkat sehingga menghambat aliran darah ke jaringan tubuh.

Jika tidak segera ditangani, jaringan yang kekurangan suplai darah dapat mengalami kematian dan meningkatkan risiko amputasi.

“Kenapa kok berbahaya? Karena salah satu risikonya adalah cedera pembuluh darah. Ujungnya amputasi,” kata dr. Gabriel.

Menurutnya, sindrom kompartemen termasuk salah satu komplikasi paling berat yang dapat terjadi akibat penanganan patah tulang yang tidak tepat.

Risiko lain yang tak kalah serius adalah malunion atau kondisi ketika tulang menyambung dalam posisi yang salah. Akibatnya, pertumbuhan tulang anak dapat terganggu sehingga menyebabkan bentuk kaki atau tangan menjadi bengkok, panjang anggota tubuh tidak sama, hingga gangguan pertumbuhan permanen.

“Kalau dia nempel tulangnya salah, pertumbuhannya bisa salah. Bisa bengkok kakinya, bisa tidak sama panjang kakinya. Bahkan ujung-ujungnya pertumbuhannya bisa mati,” jelasnya.