SBT tenaga kerja tercatat minus 1,48 persen.

Mengapa hal ini terjadi?

Jawabannya justru berasal dari karakteristik ekonomi NTT sendiri.

Setelah musim panen selesai, kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian secara alami menurun.

Di sisi lain, proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang biasanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar baru mulai berjalan pada semester kedua.

Artinya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum sepenuhnya diikuti peningkatan kesempatan kerja.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu otomatis menghasilkan penciptaan lapangan kerja dalam waktu yang sama.

Kapasitas Produksi Sedikit Melambat, tetapi Masih Sehat

Data SKDU juga menunjukkan kapasitas produksi terpakai turun menjadi 70,67 persen, dibandingkan 77,28 persen pada triwulan sebelumnya.

Penurunan ini dipengaruhi normalisasi aktivitas di sektor pertanian setelah puncak panen, berkurangnya aktivitas pertambangan, serta melambatnya permintaan bahan bangunan.

Meski demikian, tingkat utilisasi yang tetap berada di atas 70 persen menunjukkan aktivitas produksi di NTT masih berada pada level yang sehat.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.