FaktahukumNTT.com, Jakarta – Ancaman bom terhadap pesawat Saudia Airlines yang mengangkut 442 jemaah haji Kloter 12 dari Jeddah ke Jakarta berbuntut panjang. Dalam langkah cepat dan terkoordinasi, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) resmi menggandeng Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk menelusuri jejak digital dari surat elektronik berisi ancaman yang dikirim oleh pelaku tak dikenal.
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa koordinasi ini menjadi langkah penting karena dugaan keterlibatan pihak luar negeri dalam aksi teror yang mengguncang publik tersebut.
“Kami tentu bekerja sama dengan FBI untuk menelusuri lebih dalam dari mana email itu dikirim, apakah pelakunya dari dalam negeri atau luar,” ujar Kapolri dalam keterangan pers di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Sabtu (21/6/2025).
Analisis Forensik Digital: Kunci Ungkap Teror Udara
Tim gabungan Densus 88 dan Divisi Siber Polri kini tengah mendalami metadata dan header email yang dikirim pada Selasa, 17 Juni 2025 pukul 07.30 WIB. Email tersebut berisi ancaman akan meledakkan pesawat Saudia Airlines dengan nomor penerbangan SV-5276 dan registrasi HZ-AK32, yang akhirnya mendarat darurat di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada pukul 10.44 WIB.
Menurut Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, pihaknya telah mengantongi sejumlah petunjuk teknis, termasuk alamat IP dan rute pergerakan data dari pengirim email.
“Kami sedang telusuri apakah IP address yang digunakan adalah hasil penyamaran (spoofing) atau memang berasal dari wilayah tertentu. Ini akan menentukan apakah pelaku bisa dijerat hukum Indonesia atau hukum luar negeri,” terang Mayndra.
Kolaborasi Internasional Demi Keamanan Ibadah Haji
Keterlibatan FBI dalam penyelidikan ini memperkuat sinyal bahwa teror bom tersebut dipandang sebagai ancaman lintas negara, terlebih karena objek yang disasar adalah maskapai dan jemaah dari Arab Saudi yang merupakan aset negara sahabat. Densus 88 juga telah menjalin komunikasi dengan otoritas keamanan Arab Saudi untuk menyamakan data dan temuan awal.
“Ancaman ini bukan hanya mengganggu keamanan Indonesia, tapi juga menyentuh hubungan bilateral dan kepercayaan terhadap keamanan penerbangan haji,” ujar pengamat intelijen, Ridlwan Habib.
Upaya Mencegah Teror Siber Keagamaan
Insiden ini menandai urgensi perlindungan keamanan siber di sektor keagamaan, terutama saat momentum besar seperti ibadah haji. Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha, menyebut bahwa motif pelaku bisa sangat kompleks—mulai dari ekstremisme, sabotase lintas negara, hingga gangguan diplomatik.
“Ancaman ini bukan hanya ancaman fisik, tapi juga bentuk perang psikologis di ruang digital. Pemerintah harus lebih siap secara siber menghadapi eskalasi model ancaman seperti ini,” ungkap Pratama.
Terorisme di Era Digital
Polri dan FBI tengah memanfaatkan teknologi forensik digital canggih untuk mengungkap pelaku di balik email teror tersebut. Dengan jemaah haji yang kini kembali merasa cemas, kasus ini menjadi pengingat bahwa terorisme digital kini telah menyasar ruang-ruang ibadah suci. Penegakan hukum lintas negara menjadi harga mati demi menjamin keamanan dan ketenangan ibadah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
