Fenomena Kreator Digital yang Lost in Trend dan Dampaknya terhadap Kualitas Berpikir Generasi Muda

Oleh : Bernadete Jola Pedi (Mahasiswi Universitas Katolik Weetebula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia)

FHC, Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, munculnya content creator menjadi fenomena yang tidak dapat dijauhkan dari kehidupan sosial, khususnya generasi muda. Media sosial telah menjadikan tempat bagi seseorang untuk memperlihatkan ide, kreativitas, serta membangun dampak di ruang publik digital. Namun, di balik peluang tersebut, muncul persoalan yang semakin terlihat, yaitu banyaknya konten kreator yang sedang mengikuti tren sehingga kehilangan arah karena terlalu mengikuti konten tren yang sedang viral.

Fenomena ini mengacu pada keinginan para kreator digital yang lebih fokus pada populer daripada substansi konten. Tren yang muncul di media sosial dengan cepat diikuti dan ditiru tanpa adanya inovasi atau pemikiran kritis. Konten yang pdihasilkan cenderung sama, repetitif, dan kurang nilai edukatif. Akhirnya, kreativitas yang seharusnya menjadi jati diri utama seorang konten kreator tergeser oleh budaya ikut-ikutan yang dangkal.

Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh sistem media sosial yang mendorong konten viral untuk lebih mudah tersebar. Dalam perspektif teori determinisme teknologi, teknologi tidak hanya menjadi alat , tetapi juga membentuk cara berpikir dan perilaku manusia. Algoritma media sosial secara tidak langsung mendorong kreator untuk mengikuti tren yang sedang populer agar tetap relevan dan mendapatkan perhatian. Dalam situasi ini, kreator sering kali kehilangan kebebasan untuk berpikir kreatif karena terjebak dalam pola yang sudah ditentukan oleh sistem.

Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan teori uses and gratifications yang menjelaskan bahwa individu menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan, pengakuan sosial, dan popularitas. Dalam konteks ini, banyak content creator yang terdorong untuk terus mengikuti tren demi mendapatkan validasi dari penonton. Jumlah “like”, komentar, dan pengikut menjadi tolok ukur utama keberhasilan, sehingga kualitas dan makna konten sering kali diabaikan.

Dampak dari fenomena “lost in trend” tidak hanya dirasakan oleh para konten kreator, tetapi juga oleh penonton atau audiens. Generasi muda sebagai pemakai utama konten digital cenderung mengonsumsi informasi secara cepat tanpa melalui proses refleksi yang mendalam. Hal ini sejalan dengan teori social learning dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa individu belajar melalui pengamatan dan cenderung meniru perilaku yang dilihat. Ketika konten yang dikonsumsi bersifat dangkal dan repetitif, maka pola pikir yang terbentuk pun cenderung instan dan kurang kritis.

Contoh nyata yang berdampak yaitu pertama, terlihat dari banyaknya akun palsu di media sosial yang menggunakan foto orang lain tanpa izin demi menarik perhatian atau memperoleh pengikut. Kedua, penggunaan filter dan teknologi AI yang semakin marak di media sosial sering dimanfaatkan demi menarik perhatian publik dan mengejar viralitas. Akibatnya, sebagian kreator menjadi kurang menunjukkan kreativitas orisinal atau pribadi karena lebih bergantung pada teknologi dibandingkan ide yang dimiliki.. Tindakan tersebut menunjukkan rendahnya kesadaran etika digital dan kurangnya rasa tanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Namun, media sosial sebenarnya juga dapat memberikan dampak positif apabila digunakan secara bijak. Banyak kreator digital yang memanfaatkan platform media sosial untuk membuat konten edukatif, seperti tutorial memasak, pembelajaran, keterampilan, maupun informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Konten semacam ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah wawasan dan mendorong generasi muda menjadi lebih kreatif dan produktif.

Lebih jauh lagi, fenomena ini berpotensi menurunkan kualitas budaya literasi dan berpikir kritis di kalangan generasi muda. Konten yang beredar lebih banyak bersifat hiburan instan dibandingkan edukasi yang mendalam. Akibatnya, kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memahami informasi secara komprehensif menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Dalam perspektif teori displacement, waktu yang digunakan untuk mengonsumsi konten digital yang tidak produktif akan menggantikan aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti membaca, menulis, dan berdiskusi. Pergeseran ini berdampak pada menurunnya kebiasaan berpikir mendalam, yang merupakan fondasi utama dalam membangun kemampuan intelektual. Aktivitas menggulir layar tanpa tujuan yang jelas menjadi kebiasaan yang secara perlahan melemahkan daya nalar.

Namun demikian, fenomena ini bukan berarti tidak dapat diatasi. Content creator memiliki peran penting dalam membentuk kualitas ruang digital. Kreator yang sadar akan tanggung jawabnya mampu memanfaatkan tren sebagai peluang untuk menyampaikan pesan yang positif dan bermakna. Generasi muda yang kreatif tidak hanya terletak pada kemampuan mengikuti tren, tetapi juga pada kemampuan menciptakan sesuatu yang berbeda dan bernilai.

Langkah strategis juga perlu diterapkan untuk mengatasi fenomena ini. Pertama, para konten kreator perlu mengembangkan identitas dan ciri khas dalam berkarya agar tidak mudah terjebak dalam arus tren. Kedua, penting untuk menyeimbangkan antara konten hiburan dan konten edukatif agar tetap memberikan nilai bagi audiens. Ketiga, meningkatkan kualitas literasi digital agar kreator dan penonton mampu berpikir kritis dalam menghadapi informasi. Keempat, mendorong budaya reflektif dalam mengonsumsi dan memproduksi konten agar tidak sekadar mengikuti arus tanpa makna.

Meskipun demikian, fenomena ini bukan berarti tidak dapat diatasi. Content creator memiliki peran penting dalam membangun ruang digital yang sehat dan berkualitas. Kreator yang memiliki kesadaran kritis mampu memanfaatkan tren sebagai sarana untuk menyampaikan pesan positif dan bermakna. Kreativitas sejati tidak hanya terlihat dari kemampuan mengikuti tren, tetapi juga dari kemampuan menciptakan sesuatu atau hal- hal baru yang bernilai.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dalam menghadapi fenomena ini. Kreator digital perlu lebih bijak dalam memilih tren yang diikuti dan lebih berani mengembangkan ide yang orisinal. Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital agar mampu menyaring informasi dengan baik. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat hiburan semata, tetapi juga menjadi ruang yang mendukung perkembangan intelektual dan kreativitas generasi muda.

Pada akhirnya, fenomena konten kreator yang “lost in trend” menjadi tantangan serius di era digital saat ini. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk mengembangkan kreativitas, bukan justru membatasi cara berpikir. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang hanya mengikuti konten-konten tren, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu mengendalikannya secara bijak.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.