Frenco Corbafo: Jadilah Generasi yang Membawa Cahaya Perubahan, Bukan Sekadar Penonton Zaman!
Kupang, FHC – Suasana aula tempat berlangsungnya Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IMATU) Kupang Periode 2025/2026 mendadak hening ketika Frenco Corbafo Harkat, Pembina IMATU Kupang, berdiri dan memulai sambutannya. Dengan gaya tutur yang tenang namun sarat intensitas emosional, ia menghipnotis para peserta melalui gagasan-gagasan reflektif tentang karakter, loyalitas, integritas, dan urgensi menjadi aktor perubahan di tengah disrupsi sosial dan teknologi.
Dalam momen penuh kehangatan tersebut, Frenco membuka sambutan dengan ungkapan syukur dan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta, pengurus, senior, serta tokoh-tokoh yang hadir sebagai bentuk kecintaan mereka pada organisasi. Namun sorot utama dari orasinya bukan sekadar seremonial, melainkan penguatan kesadaran generasi muda tentang posisi strategis mereka dalam memengaruhi arah peradaban.
Karakter Tidak Lahir Secara Instan: Ia Dibentuk Melalui Pilihan dan Tindakan
Frenco menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa dalam organisasi bukan sekadar formalitas keanggotaan, tetapi sebuah proses pembentukan diri yang berkelanjutan. Mengutip pemikir besar dunia, ia mengingatkan bahwa “diri tidak langsung jadi; diri dibentuk oleh pilihan dan tindakan.”
Pernyataan ini mencerminkan teori-teori perkembangan karakter dalam kajian pendidikan modern, yang melihat manusia sebagai being in becoming—makhluk yang terus tumbuh melalui pengalaman, keputusan, serta interaksi sosial.
“Adik-adik ini sedang berada pada tahap penting dalam hidup. Saat ini kalian belum lengkap, dan itu wajar. Namun proses yang kalian jalani—berorganisasi, berdiskusi, membaca, mengambil keputusan—itulah yang membentuk siapa kalian di masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, banyak pemuda hari ini ingin cepat menjadi pemimpin, tetapi sering melupakan proses internal: disiplin, komitmen, integritas, dan kemampuan untuk tetap teguh di tengah tekanan. Karakter, kata Frenco, adalah nilai dasar yang menentukan arah hidup seseorang, sekaligus arah bangsa.
Loyalitas dan Integritas: Pilar yang Menopang Kepemimpinan di Era Digital
Tema besar MPAB, “Membentuk Kader yang Berkarakter, Loyalitas, dan Berintegritas dalam Menghadapi Dinamika Sosial di Era Digital,” menjadi landasan kuat sambutannya. Frenco menggarisbawahi bahwa era digital bukan hanya membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang kompleks: banjir informasi, polarisasi sosial, krisis identitas, hingga degradasi etika publik.
Dalam konteks tersebut, loyalitas bukanlah sikap membabi buta, melainkan komitmen rasional terhadap nilai, ideologi, dan misi organisasi. Integritas, pada sisi lain, menjadi penentu apakah seseorang layak dipercaya untuk memimpin dan mengambil keputusan publik.
“Dunia digital bergerak cepat, tetapi nilai-nilai dasar tidak pernah usang. Kejujuran, kerja keras, dan integritas adalah cahaya yang membedakan pemimpin dari pengikut,” tegasnya.
Sebagai Pembina organisasi, Frenco menekankan bahwa IMATU harus menjadi ruang pembinaan moral dan intelektual. Mahasiswa tidak boleh terjebak menjadi penonton arus besar zaman, tetapi harus mampu memposisikan diri sebagai aktor perubahan yang membawa cahaya bagi lingkungannya.
Peluang Belajar Tidak Akan Terulang: Manfaatkan Masa Mahasiswa
Salah satu bagian penting dalam sambutannya adalah peringatan tentang nilai waktu. Frenco mengingatkan bahwa kesempatan belajar selama menjadi mahasiswa merupakan fase emas yang tidak akan kembali.
“Ketika kalian sudah masuk dunia kerja, dunia usaha, atau dunia industri, kesempatan membaca buku, berdiskusi, dan mengembangkan diri akan semakin sempit,” katanya.
Pernyataan ini sejalan dengan banyak literatur pendidikan yang menekankan fase usia 18–25 tahun sebagai periode paling produktif untuk pertumbuhan karakter, pembentukan jejaring sosial, dan pembangunan kompetensi akademik maupun organisasi.
Menurut Frenco, organisasi seperti IMATU menyediakan ruang aman untuk jatuh bangun, mencoba dan gagal, belajar dan bangkit lagi. Pengalaman-pengalaman tersebut nantinya menjadi modal sosial dan modal moral ketika memasuki dunia profesional.
IMATU Sebagai Ruang Pembaruan dan Keluarga Besar Perubahan
Di tengah sambutannya, Frenco menegaskan bahwa IMATU bukan hanya forum mahasiswa daerah; ia adalah komunitas intelektual yang memiliki tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan. IMATU, menurutnya, adalah rumah bagi kader-kader unggul yang disiapkan untuk membawa perubahan, bukan hanya bagi kabupaten atau provinsi, tetapi juga bagi dunia.
“Adik-adik adalah keluarga. Kalian adalah generasi unggul yang siap membawa pembaruan. Dunia menunggu kontribusi kalian,” ungkapnya.
Ia menekankan perlunya sinergi antara senior dan junior, antar generasi kader, untuk saling melengkapi, saling menguatkan, dan saling membangun. Tidak ada kader besar yang lahir sendirian; semua dibentuk melalui tangan-tangan komunitas yang tulus dan solid.
Jadilah Cahaya Perubahan
Di bagian akhir sambutannya, Frenco mengajak seluruh peserta MPAB untuk tidak sekadar menjadi penonton zaman—yang hanya bereaksi, mengikuti arus, dan terombang-ambing tanpa arah. Sebaliknya, mereka harus menjadi aktor sejarah, pembawa terang, pembangun harapan, dan pemantik perubahan.
“Jadilah generasi yang membawa cahaya, bukan hanya penonton zaman. Karena perubahan besar selalu dimulai dari diri yang mau dibentuk,” tutupnya.
Pesan ini menggema sebagai panggilan moral bagi ratusan mahasiswa yang hadir, sekaligus menegaskan bahwa di tengah dinamika sosial era digital, peran pemuda tetap menjadi penentu arah bangsa.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
