Salah satu anggota FKPTT yang ikut dalam rombongan menyatakan bahwa narasi yang beredar di media sosial telah melukai perasaan masyarakat eks Timor Timur. Menurutnya, tidak adil apabila dugaan persoalan yang melibatkan individu tertentu kemudian dikaitkan dengan seluruh komunitas.

“Kami merasa keberatan karena tuduhan itu seolah-olah ditujukan kepada seluruh masyarakat eks Timor Timur. Padahal, tidak semua orang terlibat dan tidak bisa sebuah kelompok digeneralisasi seperti itu,” katanya.

FKPTT berharap laporan yang disampaikan dapat diproses secara profesional, objektif, dan transparan oleh aparat kepolisian. Mereka juga meminta masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

Selain itu, organisasi tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kerukunan di tengah berbagai dinamika sosial yang berkembang di ruang digital.

Menurut FKPTT, media sosial seharusnya menjadi sarana edukasi dan penyampaian informasi yang konstruktif, bukan ruang untuk membangun stigma maupun sentimen terhadap kelompok masyarakat tertentu.