Selain itu, sektor pendidikan naik 1,30 persen, kesehatan meningkat 1,70 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,08 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 2,35 persen.

Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale menjelaskan bahwa kenaikan pada kelompok makanan dan minuman terutama dipicu oleh fluktuasi harga pangan strategis, seperti beras, cabai, dan daging ayam ras. Sementara itu, kenaikan pada kelompok jasa pribadi dan perawatan diri mencerminkan meningkatnya konsumsi layanan non-esensial di wilayah perkotaan, menandai pergeseran perilaku konsumsi rumah tangga pasca-pandemi.

Dalam konteks statistik ekonomi, fenomena ini menunjukkan adanya inflasi inti (core inflation) yang mulai bergerak seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan pendapatan masyarakat. Namun, dari sisi inflasi volatile food, kenaikan harga pangan tetap menjadi faktor dominan yang perlu diwaspadai dalam jangka pendek.

Menariknya, meskipun inflasi tahunan naik, BPS juga mencatat deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,04 persen pada Oktober 2025. Artinya, dibanding bulan sebelumnya, harga-harga di NTT secara umum justru mengalami penurunan tipis. Kondisi ini menjadi indikasi bahwa tekanan inflasi jangka pendek masih dalam batas wajar, dan sistem distribusi barang di beberapa daerah mulai membaik.