Namun, sejumlah ekonom memperingatkan potensi cost-push inflation menjelang akhir tahun akibat kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik antar-pulau. Pemerintah daerah diminta memperkuat strategi supply chain management, serta memastikan efektivitas distribusi subsidi dan bantuan sosial agar tidak terjadi distorsi harga di pasar.
Selain itu, pendekatan preventif dan berbasis data melalui penguatan database harga e-monitoring dinilai penting untuk mendukung kebijakan fiskal yang adaptif. “Kestabilan inflasi bukan hanya hasil kebijakan moneter, tetapi juga hasil sinergi sosial-ekonomi antara produsen, distributor, dan konsumen”.
Menurut Kepala BPS NTT, dengan inflasi year-on-year sebesar 2,00 persen, deflasi bulanan 0,04 persen, dan inflasi kumulatif 0,98 persen, Provinsi Nusa Tenggara Timur berhasil menjaga stabilitas ekonomi dalam koridor yang sehat. Meski harga-harga mengalami kenaikan di sejumlah sektor, tekanan inflasi masih dalam level moderat, dan daya beli masyarakat tetap terpelihara.
