FaktahukumNTT.com, Malaka — Di balik sebuah seremoni adat yang tampak sederhana, tersimpan makna mendalam tentang cinta, penghormatan, dan kesadaran ekologis. Pada tanggal 28 Juni 2025, sebuah momentum spiritual dan budaya terpatri kuat di Desa Rabasa Haerain, Kabupaten Malaka, ketika tim teknis PT. Momen Global International, Lukas Onek Narek disambut hangat dengan ritual adat dan pengalungan selendang tenun ikat khas Timor oleh Kepala Desa Rabasa Haerain, Agustinus Nahak didampingi tiga kepala desa tetangga: Marianus Bria (Rabasa), Egidius Bria (Rabasa Hain), dan Rofinus Klau (Faloe).
Dalam budaya Malaka, tamu bukan sekadar pendatang. Ia adalah berkat yang membawa restu alam dan leluhur. Pengalungan selendang bukan hanya simbol penghormatan, tapi juga pernyataan batin bahwa sang tamu kini menjadi bagian dari tanah, air, dan harapan masyarakat setempat.
Dari Budaya ke Gerakan Global: Cinta Bumi dalam Aksi Nyata
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye nasional “Selamatkan Ibu Bumi dan Anak Cucu”, yang digerakkan melalui kerja sama kemitraan antara PT Momen Global International dan masyarakat desa. Tujuannya bukan sekadar pembangunan ekonomi, tetapi transformasi ekologi dan spiritual: menciptakan ketahanan pangan melalui pola makan sehat dan bergizi gratis berbasis pertanian organik dan ramah lingkungan.
Pertanian non-organik selama ini menjadi sumber degradasi tanah, air, dan kualitas hidup manusia. Maka, gerakan ini mengajak masyarakat untuk meninggalkan praktik pertanian kimiawi dan mulai mengadopsi pendekatan yang selaras alam, berbasis organik, dan berkelanjutan. Ini bukan hanya perubahan teknis, tapi perubahan cara pandang—dari mengeksploitasi menjadi merawat.
Menjaga Bumi, Menjaga Anak Cucu
“Bumi bukan warisan dari nenek moyang, tapi pinjaman dari anak cucu,” ujar Agustinus Nahak dalam sambutannya. “Tugas kita bukan hanya mengambil hasil dari tanah, tetapi juga menjaganya sebagai perpanjangan kasih Tuhan bagi generasi mendatang.”
Gerakan ini sejalan dengan visi spiritual yang diyakini masyarakat Malaka: manusia sebagai citra Allah memiliki peran kodrati untuk mencipta, membangun, dan memelihara dunia. Menjaga lingkungan hidup bukan semata kebijakan ekologis, melainkan perintah moral dan iman.
Teknologi yang Menyatu dengan Alam dan Iman
Inovasi pun hadir, bukan untuk menggantikan alam, tapi untuk memperkuatnya. Teknologi Nano & Far Infra Red hadir sebagai metode penyembuhan alternatif yang menggunakan air sebagai media energi sinar inframerah jarak jauh. Terapi ini menjadi solusi alami untuk menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan yang muncul akibat paparan bahan kimia dan pencemaran udara.
Disebut sebagai Pengobatan Generasi Keempat, metode ini tidak menggunakan bahan kimia atau instrumen invasif. “Ini adalah pengobatan yang bersumber dari alam dan mujizat Tuhan,” ujar Lukas Onek Narek tim teknis dari PT Momen Global International.
Demikian pula SOLF Momen, pupuk tetes super organik, menjadi inovasi pertanian yang ramah lingkungan namun tetap ekonomis. SOLF tak hanya menyuburkan tanah, tapi juga mempercepat siklus ternak dan hasil pertanian. Ia adalah bukti bahwa teknologi bisa berpihak pada bumi dan tetap menguntungkan manusia.
Satu Spirit, Satu Gerak: Seruan untuk Kita Semua
Kegiatan ini bukan hanya program desa. Ia adalah ajakan untuk sebuah “Spirit Gerakan Misioner dan Radikal”—yakni perubahan menyeluruh dalam cara kita hidup dan berpikir. Gerakan ini memanggil semua lapisan masyarakat untuk bersatu dalam satu hati, satu suara: menjaga ibu bumi, menjaga diri kita, dan menjaga masa depan anak cucu.
“Bila kita terus menanam racun di tanah dan dalam tubuh kita, maka kita sedang menggali kuburan anak-anak kita sendiri,” ujar Egidius Bria ( Kepala Desa Rabasa Hain), Kini saatnya kembali—kembali ke tanah, ke air, dan ke kasih.
Jejak selendang yang tergantung di bahu Agustinus Nahak hari itu, adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar dari seremoni. Ia adalah warisan harapan, tanda persaudaraan, dan amanat ekologis yang tidak bisa diabaikan. Selendang itu membawa pesan dari bumi kepada manusia: “Rawat aku, maka aku akan merawatmu.”
Di tengah dunia yang terus mengabaikan alam, desa-desa kecil seperti Rabasa Haerain justru memberi pelajaran besar—bahwa perubahan dimulai dari hati yang mencintai, dari budaya yang menghormati, dan dari tangan-tangan yang mau kembali ke tanah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
