2. Fase Awal 1945–1950: Konsolidasi dan Dilema Jakarta Charter

1. Masyumi 1945: Didirikan 7 November 1945 sebagai fusi seluruh organisasi Islam, dipimpin Wondoamiseno. Tujuannya menyatukan suara Islam dalam konstituante dan pemerintahan.

2. Jakarta Charter 22 Juni 1945: Menjadi titik awal konflik ideologis. Rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” ditolak kelompok nasionalis dan non-Muslim. Penghapusannya 18 Agustus 1945 melahirkan rasa kekecewaan mendalam di kalangan Islam politik.

3. Peran dalam Revolusi: Tokoh seperti H. Agus Salim, Natsir, dan Kartosoewirjo aktif dalam diplomasi dan militer. Namun, munculnya DI/TII 1949 memperlihatkan fraktur: sebagian Islam memilih jalur parlementer, sebagian lain pemberontakan.

3. Masa Demokrasi Liberal 1950–1957: Puncak Kekuatan Elektoral.

Ini era paling terbuka bagi partai Islam.

1. Pecahnya Masyumi 1952: Konflik internal antara Sayap Politik Natsir vs Sayap NU pimpinan Wahid Hasyim. NU keluar dan jadi partai sendiri 1952. Pecah ini melemahkan blok Islam secara signifikan.