Menurutnya, gejolak ekonomi dunia saat ini membawa konsekuensi langsung terhadap sistem pangan nasional. Fluktuasi harga komoditas internasional, pembatasan ekspor oleh sejumlah negara produsen, kenaikan biaya logistik global, hingga tekanan terhadap nilai tukar menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga pangan di dalam negeri.

“Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari stabilitas ekonomi. Ketika harga pangan terkendali, daya beli masyarakat tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Ricky.

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan pangan nasional. Jika sebelumnya ketahanan pangan lebih banyak dipahami sebagai persoalan produksi, kini isu tersebut berkembang menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas makroekonomi.

Dalam konteks tersebut, Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas sektor pangan, memperlancar distribusi, sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.