FK,Liverpool – Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Loris Karius sudah menjadi penjaga gawang utama Liverpool. Masa depannya tampak cerah, hingga semuanya berubah drastis pada malam tragis di final Liga Champions 2018 di Kyiv melawan Real Madrid.
Setelah membuat dua kesalahan fatal di pertandingan itu, hidup Karius tak pernah sama lagi. Ia dan keluarganya menerima ancaman pembunuhan, dan tekanan mental yang luar biasa mulai merenggut kariernya sedikit demi sedikit.
Perjuangan di Balik Sorotan
Karius mencoba bangkit dengan menjalani masa pinjaman dua tahun di Beşiktaş, Turki. Namun, meski berusaha keras, performa terbaiknya tak kunjung kembali. Ia kemudian pindah ke Union Berlin musim 2020/21, tapi nyaris tidak dimainkan sepanjang musim.
Masalah kesehatan mental yang ia alami meninggalkan luka yang dalam. Kariernya terus merosot, dan Liverpool memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya, yang membuatnya pergi secara gratis ke Newcastle United. Di sana pun, ia lebih sering menjadi cadangan.
Sisi Gelap Seorang Kiper
“Anda membuat kesalahan, dan kesalahan itu akan mengingatkan Anda seumur hidup.”
“Menjadi penjaga gawang adalah posisi tersulit dalam sepak bola.”
Itulah kenyataan yang harus dihadapi Loris Karius. Ketika seorang striker mencetak gol, ia dielu-elukan. Tapi ketika seorang kiper membuat kesalahan, ia bisa dihancurkan oleh satu malam buruk. Kisah Karius menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan dan sorakan, tapi juga tentang mental, tekanan, dan rasa sakit yang tak terlihat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
