Kawasan Mutis Timau memiliki peran ekologis yang sangat penting sebagai penyangga kehidupan di Pulau Timor. Wilayah ini merupakan salah satu hulu utama sistem hidrologi yang memasok kebutuhan air bagi ribuan warga di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Kupang.
Vegetasi khas seperti hutan ampupu (Eucalyptus urophylla) berfungsi sebagai penyerap air dan habitat keanekaragaman hayati endemik. Dalam konteks ini, masyarakat adat selama ini telah menjalankan sistem pengelolaan berbasis kearifan lokal yang terbukti menjaga keseimbangan ekosistem.
Masyarakat adat membagi wilayahnya ke dalam beberapa zona, termasuk wilayah sakral, zona pemanfaatan terbatas, dan area penggembalaan. Sistem ini diatur melalui norma adat yang mengikat dan berfungsi sebagai mekanisme pengendalian pemanfaatan sumber daya alam.
Klaim Konservasi Dipertanyakan
Meski berstatus kawasan konservasi, masyarakat melaporkan adanya berbagai temuan yang justru menunjukkan degradasi lingkungan. Di antaranya adalah pencemaran sampah di kawasan hutan, aktivitas tidak terkontrol di sekitar sumber mata air, serta ketiadaan fasilitas sanitasi yang memadai.
