Kupang Barat, FHC – Di tengah semarak Pekan Raya Pemuda Sinode GMIT 2025 yang digelar di Bumi Perkemahan CHMK Oematnunu, Wakil Wali Kota Kupang Serena C. Francis berdiri di hadapan ratusan pemuda dengan suara lembut namun penuh kekuatan moral. Dalam forum bertema “To Be a Leader: Bertumbuh, Berkarya, Berdampak”, Serena berbicara bukan hanya tentang teori kepemimpinan, tetapi tentang jiwa pelayanan yang menjadi dasar seorang pemimpin sejati.

“Kepemimpinan yang melayani adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada generasi muda. Karena pada akhirnya, pemimpin yang besar bukan yang ditinggikan oleh jabatan, melainkan yang diingat karena hatinya melayani,” ujarnya, disambut tepuk tangan hangat peserta.

Serena menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memiliki empati dan kepekaan sosial — mereka yang mau mendengarkan, hadir di tengah rakyat, dan bekerja dengan hati. Ia mencontohkan bahwa dalam tugasnya sebagai Wakil Wali Kota, banyak tantangan yang ia hadapi bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena hilangnya semangat gotong royong dan empati di tengah masyarakat.

Serena percaya, gereja dan pemerintah memiliki tanggung jawab moral yang sama dalam membentuk karakter generasi muda. Gereja, katanya, membangun spiritualitas dan nilai kasih, sementara pemerintah menyediakan ruang aktualisasi dan dukungan konkret melalui kebijakan.

“Kita butuh generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Gereja dan pemerintah harus bergandengan tangan membentuk pemuda seperti itu,” tutur Serena.

Ia menyinggung beberapa program kolaboratif antara Pemerintah Kota Kupang dan GMIT, seperti pelatihan UMKM dan digitalisasi ekonomi, serta kegiatan sosial berbasis komunitas. Salah satu yang ia sebut dengan bangga adalah Sunday Market Saboak di Taman Nostalgia, program kolaboratif yang telah memberdayakan lebih dari seratus pelaku UMKM lokal dan menghasilkan perputaran ekonomi mencapai tiga miliar rupiah dalam waktu 18 minggu.

Bagi Serena, program seperti ini bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi bentuk nyata dari kepemimpinan pelayanan: menciptakan peluang bagi banyak orang untuk tumbuh dan berdaya.

“Pelayanan tidak selalu dalam bentuk khotbah atau program sosial. Menyiapkan ruang agar orang lain bisa maju juga adalah bentuk pelayanan,” ungkapnya.

Dalam penjelasannya, Serena menggambarkan kepemimpinan sebagai perjalanan spiritual yang menuntut integritas, kerendahan hati, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat.
Ia menegaskan bahwa jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan. Seorang pemimpin sejati, menurutnya, tidak mencari kemuliaan pribadi, melainkan kesejahteraan bersama.

“Kalau kepemimpinan hanya soal posisi, maka akan berakhir ketika masa jabatan selesai. Tapi kalau kepemimpinan lahir dari hati yang melayani, maka pengaruhnya akan bertahan lama, bahkan setelah kita tiada,” ujarnya dengan nada reflektif.

Serena juga menyinggung pentingnya role model bagi generasi muda — figur yang bisa menjadi teladan dalam kejujuran, kerja keras, dan kasih terhadap sesama. Ia mengajak pemuda GMIT untuk menjadi bagian dari generasi yang tidak sekadar menuntut perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri.

“Pemimpin masa depan tidak lahir di ruang-ruang mewah, tapi di tempat di mana ada kemauan untuk mendengar, belajar, dan melayani. Pemuda GMIT punya potensi besar untuk menjadi pemimpin seperti itu,” tegasnya.

Dalam suasana sore yang hangat, suara Serena terdengar lembut tapi menyentuh hati. Ia bercerita tentang banyaknya anak muda di Kupang yang terlibat dalam kegiatan sosial tanpa pamrih — membersihkan lingkungan, mengajar anak-anak di pelosok, hingga membantu masyarakat kecil.
Bagi Serena, mereka adalah cerminan nyata dari kepemimpinan yang melayani.

“Melayani itu bukan pekerjaan orang besar. Justru dari hal kecil seperti menanam pohon, membantu tetangga, atau menjaga kebersihan, kita belajar arti kepemimpinan sejati,” ucapnya sambil tersenyum.

Ia menutup paparannya dengan kalimat yang menjadi inti seluruh pesan hari itu:

“Jadilah pemimpin yang mengasihi. Karena cinta yang diwujudkan dalam pelayanan akan menumbuhkan kehidupan yang lebih baik bagi semua.”

Ketika matahari mulai condong ke barat, Oematnunu menjadi saksi lahirnya inspirasi baru. Ratusan pemuda GMIT tampak merenung, sebagian tersenyum, sebagian lagi mencatat kata-kata Serena yang penuh makna.
Bagi mereka, pesan itu bukan sekadar pidato — tapi panggilan untuk membangun masa depan dengan hati yang melayani.

Dari tanah yang sederhana di Kupang Barat, sebuah pesan kemanusiaan tumbuh: bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang memberi, bukan memiliki. Dan seperti yang diungkapkan Serena, warisan paling indah yang bisa ditinggalkan untuk generasi mendatang bukanlah kekuasaan, tetapi keteladanan dalam cinta dan pelayanan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.