Meski demikian, secara tahunan inflasi inti tetap terjaga rendah pada level 2,38 persen (yoy). Kondisi ini mencerminkan keberhasilan BI dalam menjangkar ekspektasi inflasi melalui kebijakan suku bunga yang konsisten, stabilisasi nilai tukar rupiah untuk menekan imported inflation, serta dukungan digitalisasi yang meningkatkan efisiensi distribusi. Inflasi inti yang terkendali juga menandakan bahwa permintaan domestik masih berada dalam kapasitas ekonomi yang relatif longgar.

Dari perspektif ketahanan eksternal, stabilitas inflasi berperan penting dalam menjaga daya saing ekonomi nasional. Inflasi yang terkendali membantu menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat kepercayaan investor, dan mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Namun, ketahanan ini belum sepenuhnya kokoh karena struktur inflasi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh komoditas berbasis sumber daya alam (SDA), khususnya pangan dan energi.

Ketergantungan pada SDA menciptakan risiko struktural jangka menengah. Gangguan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim berpotensi semakin sering terjadi, mengancam pasokan pangan dan memicu volatilitas harga. Di sisi lain, sektor energi masih dibayangi ketergantungan pada BBM impor, sehingga fluktuasi harga global mudah diterjemahkan menjadi tekanan inflasi domestik.