Dalam konteks ini, ketahanan eksternal Indonesia bersifat asimetris. Di satu sisi, ekspor nonmigas mampu memberikan bantalan yang cukup kuat. Di sisi lain, sektor migas menjadi sumber kerentanan yang terus berulang. Ketidakseimbangan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan eksternal, terutama jika terjadi lonjakan harga energi global atau gangguan pasokan.

Bank Indonesia menyadari risiko tersebut. Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait. Strategi yang ditempuh tidak hanya berfokus pada stabilisasi jangka pendek, tetapi juga pada penguatan struktur ekonomi eksternal secara berkelanjutan. Pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, serta pengelolaan aliran modal tetap menjadi prioritas utama kebijakan moneter.

Namun, kebijakan moneter saja tidak cukup. Tantangan struktural ekspor SDA dan defisit migas menuntut respons lintas sektor. Pemerintah memegang peran krusial dalam mendorong hilirisasi industri, memperluas basis ekspor manufaktur, serta mengurangi ketergantungan impor energi. Program hilirisasi nikel dan mineral strategis lainnya merupakan langkah awal, tetapi dampaknya perlu diperluas ke sektor lain agar struktur ekspor menjadi lebih beragam dan bernilai tambah tinggi.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.