Dalam menghadapi dinamika global yang sulit diprediksi, BI mengandalkan bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Salah satu instrumen kunci adalah penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (forward looking).

Hingga minggu pertama Februari 2026, insentif KLM yang telah dikucurkan mencapai Rp427,5 triliun. Skema ini dirancang untuk memastikan kecukupan likuiditas sekaligus mendorong percepatan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM, perumahan, hilirisasi industri, dan proyek-proyek strategis nasional.

Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma kebijakan: dari sekadar menjaga stabilitas, menuju stabilitas yang produktif. Stabilitas bukan lagi tujuan akhir, melainkan fondasi bagi akselerasi pertumbuhan.

Di tengah risiko global mulai dari suku bunga tinggi di negara maju, ketegangan geopolitik, hingga potensi perlambatan ekonomi dunia sinergi antarlembaga menjadi kunci. Dalam kerangka KSSK, BI bersama pemerintah, OJK, dan LPS memperkuat koordinasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan respons kebijakan berjalan selaras.