“Data ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen,” ujar Matamira.
Dengan tekanan harga yang masih dominan pada awal 2026, penguatan daya beli petani menjadi krusial guna menjaga ketahanan ekonomi perdesaan di Nusa Tenggara Timur.
