Risiko dan implikasi kebijakan
Pelonggaran moneter yang mendorong M0 dan M2 memberikan ruang bagi pemulihan ekonomi melalui konsumsi dan investasi. Tetapi terdapat dua risiko terukur: pertama, kemungkinan tekanan inflasi jika likuiditas besar itu berbalik mendorong permintaan lebih cepat daripada kapasitas produksi; kedua, efektivitas transmisi moneter, apabila suku bunga kredit enggan turun signifikan, upaya mendorong kredit melalui pelonggaran kebijakan moneter bisa kurang efektif.
Otoritas moneter harus menyeimbangkan antara mempertahankan stabilitas nilai tukar dan memastikan kebijakan moneter yang longgar benar-benar meresap ke suku bunga pinjaman.
Di sisi perbankan, kinerja ketahanan terlihat solid: permodalan terjaga dan NPL relatif rendah (angka-angka resmi menunjukkan perbankan masih memiliki buffer). Namun, ketahanan ini harus dibaca sebagai kesiapan menyerap risiko, bukan jaminan kredit otomatis akan mengalir.
Koordinasi kebijakan antara BI, Kementerian Keuangan, dan otoritas fiskal (KSSK) akan sangat penting untuk mendorong penyaluran kredit produktif dan menekan risiko penumpukan likuiditas yang tidak produktif.
