Jakarta, FHC – Bank Indonesia (BI) melaporkan lonjakan signifikan pada uang primer (M0) yang telah disesuaikan (M0 Adjusted): pada Oktober 2025 pertumbuhan M0 Adjusted tercatat double-digit, berada di kisaran 14,4% (yoy). Lonjakan ini mencerminkan efek gabungan dari pelonggaran kebijakan moneter dan ekspansi keuangan Pemerintah, termasuk dampak penempatan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan.
Secara makro, dinamika M0 Adjusted perlu dibaca dalam konteks dua hal: (1) insentif likuiditas makroprudensial (KLM) BI yang menurunkan beban Giro Wajib Minimum (GWM) sehingga mengubah basis perhitungan M0, dan (2) pergeseran struktur pembiayaan Pemerintah, termasuk pengalihan penempatan dana SAL, yang menambah giro perbankan di BI serta mendorong ekspansi Tagihan Bersih kepada Pemerintah. Kedua mekanisme tersebut memicu peningkatan cadangan likuiditas di perbankan yang tercermin pada angka M0 Adjusted.
Dampak pelebaran likuiditas terlihat pula pada ukuran uang beredar yang lebih luas (M2). Per September 2025, M2 tercatat meningkat menjadi sekitar 8,0% (yoy), naik dari level yang lebih rendah pada awal tahun. Komponen M1 (uang beredar sempit) tampil kuat, didorong antara lain oleh kenaikan uang kartal di luar bank, yang mengindikasikan lebih banyak uang siap pakai beredar di masyarakat. Faktor pendorong lain termasuk pertumbuhan Aktiva Luar Negeri Bersih (NFA) dan ekspansi tagihan kepada Pemerintah.
