Wisatawan Australia Tiba di NTT, Apa yang Mereka Temukan di Kupang, Alor, dan Lembata?
FHC, Kedatangan wisatawan Australia ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal Januari 2026 bukan sekadar catatan kunjungan pariwisata. Ia menjadi potret tentang bagaimana sebuah daerah kepulauan di timur Indonesia menampilkan dirinya di hadapan dunia—melalui budaya, keramahan, dan narasi tentang kehidupan yang bersahabat dengan alam.
Pada Minggu (4/1/2026), Gubernur NTT Melki Laka Lena menyambut langsung rombongan wisatawan Australia yang melakukan tur dengan kapal wisata Paspaley Pearl di La Cove Bar & Resto, kawasan Pantai Lasiana, Kota Kupang. Penyambutan ini bukan seremoni biasa. Ia dirancang sebagai ruang perjumpaan budaya, diplomasi lunak, sekaligus pesan bahwa NTT ingin dikenal bukan hanya karena lanskapnya, tetapi juga karena nilai-nilai yang hidup di masyarakatnya.
“Selamat datang di Nusa Tenggara Timur. Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi momen persahabatan dan perjumpaan antarbangsa,” ujar Melki dalam sambutannya. Kalimat itu menjadi penanda arah: pariwisata diposisikan sebagai jembatan relasi, bukan semata industri angka.
Kupang: Gerbang yang Tenang dan Terbuka
Bagi para wisatawan, Kupang adalah pintu pertama. Kota pesisir ini menyuguhkan ritme hidup yang relatif tenang, jauh dari hiruk-pikuk destinasi wisata massal. Di hadapan para tamu, pangan lokal khas NTT disajikan—mulai dari olahan jagung, umbi-umbian, hingga hidangan laut—sebagai penegasan bahwa kekayaan daerah ini tumbuh dari tanah dan lautnya sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
