Anak Susah Makan Sayur? Penelitian Ungkap 6 Cara Efektif agar Anak Suka Sayuran Tanpa Dipaksa

FHC, Banyak orangtua menghadapi tantangan ketika anak menolak makan sayur dan hanya memilih makanan tertentu yang dianggap lebih menarik. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa memaksa anak mengonsumsi sayuran justru bukan solusi yang efektif.

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan makan anak dapat dibentuk melalui pengalaman yang konsisten dan menyenangkan sejak usia dini. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar menerima bahkan menyukai sayuran tanpa tekanan.

Dilansir dari BBC, para ahli menjelaskan bahwa anak secara alami lebih menyukai rasa manis. Preferensi ini sudah terbentuk sejak bayi karena Air Susu Ibu (ASI) mengandung gula alami yang memberikan rasa manis.

Kondisi tersebut membuat sayuran yang cenderung memiliki rasa pahit atau hambar menjadi lebih sulit diterima oleh anak. Padahal, konsumsi buah dan sayur sangat penting untuk mendukung kesehatan, pertumbuhan, perkembangan otak, konsentrasi, serta perilaku anak.

Profesor Biopsikologi dari University of Leeds, Marion Hetherington, mengatakan bahwa salah satu kunci utama agar anak menyukai sayuran adalah dengan mengenalkannya secara berulang.

Menurutnya, anak membutuhkan waktu dan pengalaman berulang sebelum menerima jenis makanan baru. Dalam beberapa kasus, anak perlu diperkenalkan pada makanan yang sama hingga lima sampai 15 kali sebelum akhirnya bersedia mencobanya.

“Jika orangtua tidak mulai meningkatkan paparan sayuran sebelum usia lima tahun, itu akan menjadi jauh lebih sulit,” ujarnya.

Selain mengenalkan sayuran secara berulang, para peneliti menemukan bahwa menyajikan sayuran sebelum makanan utama juga dapat meningkatkan peluang anak untuk mengonsumsinya.

Anak cenderung memilih makanan favorit terlebih dahulu ketika makan. Saat rasa lapar sudah berkurang, mereka biasanya tidak lagi tertarik menghabiskan sayuran yang tersisa di piring.

Karena itu, memberikan sayuran saat anak masih lapar dinilai lebih efektif dibandingkan menyajikannya bersamaan dengan makanan yang lebih disukai.

Penelitian di sejumlah pusat pengasuhan anak di Inggris menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen anak bersedia mengonsumsi sayuran ketika makanan tersebut ditawarkan saat sarapan.

Cara lain yang disarankan adalah meningkatkan porsi sayuran dalam menu harian secara bertahap. Orangtua dapat menambahkan sayuran ke dalam berbagai hidangan tanpa mengubah cita rasa secara drastis.

Misalnya dengan mencampurkan wortel, bayam, atau zucchini yang diparut ke dalam saus, sup, maupun makanan favorit anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan porsi buah dan sayur hingga 50 persen dalam satu hidangan dapat mendorong anak mengonsumsi lebih banyak sayuran tanpa merasa dipaksa.

Selain rasa, tampilan makanan juga berperan penting dalam menarik minat anak. Para peneliti menemukan bahwa anak lebih tertarik mencoba makanan yang disajikan secara kreatif dan menarik secara visual.

Memotong sayuran menjadi bentuk bunga, kupu-kupu, bintang, atau karakter lucu dapat meningkatkan ketertarikan anak untuk mencicipinya. Sayuran yang diletakkan di tempat yang mudah terlihat dan dijangkau juga lebih sering dipilih sebagai camilan sehat.

Penelitian tersebut juga menegaskan pentingnya peran orangtua sebagai teladan. Anak cenderung meniru kebiasaan makan anggota keluarga yang ada di sekitarnya.

Karena itu, orangtua yang rutin mengonsumsi sayuran dan menunjukkan pola makan sehat memiliki peluang lebih besar untuk membentuk kebiasaan serupa pada anak.

Beberapa penelitian menemukan bahwa makan bersama keluarga setidaknya tiga kali dalam seminggu berkaitan dengan peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak serta pola makan yang lebih sehat secara keseluruhan.

Para ahli juga mengingatkan agar aktivitas makan tidak dijadikan sebagai momen yang penuh tekanan. Memaksa anak makan justru dapat menimbulkan penolakan yang lebih besar terhadap makanan tertentu.

Sebaliknya, anak dianjurkan untuk dikenalkan pada makanan melalui aktivitas yang menyenangkan, seperti menyentuh, mencium, mengamati, atau bahkan ikut memasak bersama orangtua.

Koki eksperimental yang terlibat dalam penelitian, Jozef Youssef, mengatakan bahwa pengalaman positif saat berinteraksi dengan makanan dapat meningkatkan keberanian anak untuk mencoba makanan baru.

“Kuncinya adalah mengubah cara anak mengalami makanan. Dalam suasana santai dan tanpa tekanan, anak-anak jauh lebih bersedia bermain, mencicipi, dan bereksperimen dengan berbagai jenis makanan,” ujarnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa membangun kebiasaan makan sayur pada anak tidak harus dilakukan dengan paksaan. Paparan yang konsisten, keteladanan orangtua, dan pengalaman makan yang menyenangkan menjadi faktor penting untuk membantu anak menyukai sayuran sejak dini.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.