Tapi hari itu, Festival Budaya Anak Amfoang mengubah segalanya. Anak-anak menyanyikan lagu daerah. Mereka menceritakan asal muasal dan makna dari motif kain tenun Amfoang  dengan bangga. Mereka (Aisa, Bata, Falo) yang menceritakan dan menyingkap makna yang tersirat dibalik motif adat amfoang—bukan hanya karena disuruh, tetapi karena mereka menikmatinya.

“Kami tak ingin budaya ini hanya menjadi cerita. Kami ingin ia menjadi napas. Menjadi kebiasaan. Menjadi milik anak-anak ini yang akan melanjutkan hidup di tanah ini,” ujar kaka Emi seorang pendamping sambil memandu murid-muridnya dalam cerita.

Sentuhan Emosional Seorang Pemimpin

Yosef Lede menyampaikan sambutannya dengan jeda-jeda panjang. Seolah menahan emosi. Kadang matanya mengarah pada sekelompok anak yang duduk di kursi kayu, diam-diam menggenggam tangan temannya sambil menyimak. Kadang suaranya melemah, saat berbicara tentang betapa pentingnya memberi ruang kepada anak-anak untuk tampil, bertumbuh, dan dikenal.

“Anak-anak kita ini punya talenta, punya mimpi, punya budaya. Tapi kita seringkali menutup ruang itu karena terlalu sibuk membuat acara untuk orang dewasa. Hari ini, saya minta—beri mereka panggung. Biarkan mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya.”

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.