Tak sedikit yang terdiam. Beberapa orang tua tampak meneteskan air mata. Tak karena sedih, tapi karena bangga dan terharu. Anak-anak mereka hari ini bukan hanya murid sekolah. Mereka adalah penjaga warisan leluhur.

Budaya yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Dihidupkan

Festival ini juga menghadirkan edukasi makanan lokal bergizi. Anak-anak dikenalkan pada jagung muda, ubi rebus, daun kelor, daun pepaya yang sudah diolah jadi cemilan. Makanan yang selama ini dianggap sederhana, hari itu menjadi sumber energi, simbol kekayaan lokal yang harus dijaga dan dikembangkan.

Tarian tradisional pun menjadi alternatif yang segar di tengah dominasi gadget. Anak-anak tertawa lepas. Mereka berlari, saling mengejar, saling memberi semangat. Tak ada pemenang, tak ada yang kalah. Semua belajar satu hal yang sama: bahwa kebahagiaan bisa datang dari akar budaya kita sendiri.

Di penghujung sambutannya, Bupati Kupang secara simbolis memberikan dukungan berupa Rp10 juta untuk mendukung penyelenggaraan festival. Namun, bukan nominalnya yang menggugah, melainkan makna dan kesungguhan di baliknya.