“Ini bukan soal besar kecilnya angka. Ini tentang komitmen. Bahwa kami di pemerintah tidak akan tinggal diam saat budaya kita perlahan dilupakan. Anak-anak ini butuh kita. Dan kita butuh mereka untuk membawa budaya kita ke masa depan,” ucap Yosef.

Matahari mulai tergelincir ke barat. Anak-anak semakin asyik dalam setiap pentas budaya. Karpet biru dan hijau merasakan hentakan kaki berirama, kini ia tak sekadar alas. Ia telah menjadi saksi diam dari sebuah kebangkitan—kebangkitan kebanggaan menjadi anak Amfoang.

Seruan “Banggalah jadi anak Amfoang!” tak hanya menggema di mikrofon. Ia hidup di hati. Ia terbawa pulang bersama anak-anak, dibisikkan ibu ke anak, ditulis guru di papan tulis, dan akan dikenang sebagai hari di mana budaya kembali disematkan ke dada generasi baru.

Hari itu, Amfoang tak hanya merayakan budaya. Ia menanamkan cinta.