Bersihkan 2.000 Data Mahasiswa DO, Langkah Strategis Undana Menjaga Akreditasi dan Menembus Kancah Global

FHC, Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, kualitas sebuah universitas tidak lagi hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau banyaknya program studi yang dimiliki. Akurasi data akademik kini menjadi salah satu indikator penting yang menentukan reputasi dan daya saing institusi pendidikan tinggi.

Kesadaran itulah yang tampaknya melatarbelakangi keputusan Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., untuk menjadikan pembersihan sekitar 2.000 data mahasiswa putus studi sebagai prioritas utama pada awal masa jabatan periode keduanya.

Usai dilantik kembali oleh Rektor Undana pada Senin (29/6/2026), Prof. Annytha menegaskan bahwa pembenahan data akademik bukan sekadar urusan administrasi, melainkan langkah strategis yang berkaitan langsung dengan masa depan universitas.

Selama bertahun-tahun, ribuan mahasiswa yang tidak lagi aktif tercatat dalam sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Kondisi tersebut menyebabkan rasio dosen dan mahasiswa yang tercatat secara nasional menjadi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Dalam sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, rasio dosen-mahasiswa merupakan salah satu indikator penting yang digunakan dalam proses akreditasi institusi maupun program studi. Ketika data mahasiswa aktif membengkak akibat keberadaan mahasiswa yang sebenarnya sudah tidak mengikuti perkuliahan, maka beban akademik dosen terlihat lebih tinggi daripada kondisi riil.

Dampaknya tidak sederhana. Ketidakseimbangan rasio tersebut dapat memengaruhi penilaian akreditasi, membatasi peluang pengembangan program studi baru, hingga berdampak pada berbagai kebijakan pendidikan yang berbasis data nasional.

Karena itu, langkah yang diambil Prof. Annytha dinilai sebagai upaya penyelamatan tata kelola akademik Undana dalam jangka panjang.

Di saat yang sama, Undana juga tengah mempersiapkan agenda besar menuju internasionalisasi kampus. Program double degree, fast track, serta peningkatan akses pendidikan yang inklusif menjadi bagian dari strategi besar yang ingin diwujudkan dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, ambisi menjadi kampus yang mampu bersaing di tingkat internasional membutuhkan fondasi data yang kuat dan kredibel. Tanpa sistem informasi yang akurat, berbagai program pengembangan akademik akan sulit memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari mitra nasional maupun internasional.

“Ini adalah amanah sekaligus kehormatan. Kalau sesuatu itu dianggap sebagai kehormatan dan kesempatan, maka harus dimanfaatkan dengan baik,” kata Prof. Annytha.

Untuk itu, pengawasan terhadap proses penginputan data akademik akan diperketat. Evaluasi rutin terhadap operator fakultas dan unit-unit terkait akan dilakukan guna memastikan setiap perubahan status mahasiswa tercatat secara tepat waktu dan sesuai ketentuan.

Langkah pembersihan data yang dilakukan saat ini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi Undana. Dengan basis data yang lebih akurat, universitas memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan mutu akademik, mempertahankan akreditasi, memperluas kerja sama internasional, serta membuka ruang inovasi pendidikan yang lebih luas.

Di tengah tuntutan transformasi pendidikan tinggi yang terus berkembang, keputusan Undana memulai pembenahan dari kualitas data menunjukkan bahwa kemajuan institusi tidak hanya ditentukan oleh visi besar, tetapi juga oleh ketelitian dalam mengelola fondasi akademiknya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.