Dalam sesi kebijakan, narasumber dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, menguraikan upaya pemerintah pusat memperbaiki iklim investasi di daerah melalui insentif fiskal dan penyederhanaan perizinan. Sementara itu, Alexander Lubis dari Departemen Kebijakan Makroprudensial BI memaparkan instrumen makroprudensial yang dapat diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor prioritas, termasuk skema Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang memberi insentif bagi perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor unggulan daerah.
Akademisi Zaafri Ananto Husodo menyodorkan analisis terkait optimalisasi pembiayaan UMKM, menekankan pentingnya pembiayaan berbasis rantai nilai dan penguatan mekanisme jaminan kredit lokal untuk mengatasi masalah asimetri informasi dan risiko usaha. Ia menekankan bahwa pembiayaan bukan sekadar penyediaan dana, tetapi juga pembinaan kapasitas manajerial dan akses pasar.
Kegiatan ditutup dengan presentasi kajian kolaboratif ISEI Kota Kupang dan BI NTT yang menawarkan tiga fokus prioritas: (1) penguatan nilai tambah garam di Kabupaten Kupang melalui integrasi proses hilirisasi dan branding; (2) analisis kesiapan infrastruktur pendukung Bendungan Temef sebagai enabler suplai air untuk pertanian dan industri lokal; dan (3) optimalisasi rantai pasok ayam pedaging di Kota Kupang untuk menurunkan volatilitas harga dan meningkatkan efisiensi distribusi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
