Padahal, pasar rakyat adalah wajah paling jujur dari kehadiran negara. Ketika pasar tertata, bersih, dan aman, rakyat merasa dihargai. Tetapi ketika pasar dibiarkan bertahan sendiri, pesan yang diterima pun terang: berjuanglah tanpa berharap banyak.
Para juragan ikan dan papalele tidak meminta istana. Mereka tidak menuntut gedung bertingkat atau fasilitas modern ala kota besar. Mereka hanya menginginkan ruang yang tertata, terang, aman, dan manusiawi—tempat bekerja tanpa rasa waswas, tempat mencari nafkah dengan martabat.
Setiap sore, di bawah lampu senja, mereka tetap datang. Menyusun ikan di atas meja kayu, memanggil pembeli dengan suara yang mulai serak, dan menyimpan harapan bahwa esok hari akan sedikit lebih ramah.
Di Pasar Harian Beiabuk, kita melihat wajah sejati ekonomi Malaka: sederhana, keras, namun tak pernah kehabisan harapan.
Kini pertanyaannya bukan lagi seberapa penting pasar ini. Itu sudah terjawab setiap senja. Pertanyaannya tinggal satu: kapan perhatian nyata benar-benar hadir, menyusul kerja keras rakyat yang selama ini bertahan dalam cahaya lampu yang redup itu?***
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
