Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh sistem media sosial yang mendorong konten viral untuk lebih mudah tersebar. Dalam perspektif teori determinisme teknologi, teknologi tidak hanya menjadi alat , tetapi juga membentuk cara berpikir dan perilaku manusia. Algoritma media sosial secara tidak langsung mendorong kreator untuk mengikuti tren yang sedang populer agar tetap relevan dan mendapatkan perhatian. Dalam situasi ini, kreator sering kali kehilangan kebebasan untuk berpikir kreatif karena terjebak dalam pola yang sudah ditentukan oleh sistem.
Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan teori uses and gratifications yang menjelaskan bahwa individu menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan, pengakuan sosial, dan popularitas. Dalam konteks ini, banyak content creator yang terdorong untuk terus mengikuti tren demi mendapatkan validasi dari penonton. Jumlah “like”, komentar, dan pengikut menjadi tolok ukur utama keberhasilan, sehingga kualitas dan makna konten sering kali diabaikan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
