Inflasi Juni 2026 Naik ke 3,34 Persen, Bank Indonesia Pastikan Tetap dalam Jalur Sasaran
FHC, Laju inflasi Indonesia pada Juni 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut masih berada dalam koridor yang dianggap aman oleh Bank Indonesia dan pemerintah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat mencapai 3,34 persen (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Angka tersebut menggambarkan bahwa tekanan harga mulai meningkat di sejumlah sektor, terutama yang berkaitan dengan energi dan transportasi. Meski demikian, Bank Indonesia menilai stabilitas harga secara umum tetap terjaga berkat kombinasi kebijakan moneter yang konsisten dan koordinasi erat dengan pemerintah pusat maupun daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengendalian inflasi tidak lagi hanya bertumpu pada instrumen suku bunga dan kebijakan moneter. Pemerintah dan Bank Indonesia juga memperkuat pendekatan struktural melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), termasuk penguatan ketahanan pangan nasional.
Salah satu indikator yang menunjukkan stabilitas tersebut terlihat pada inflasi inti. Kelompok ini mencerminkan pergerakan harga yang relatif permanen karena dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi, seperti permintaan domestik dan ekspektasi inflasi.
Pada Juni 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,22 persen. Sementara secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,76 persen dari sebelumnya 2,59 persen.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh masih tingginya harga sejumlah komoditas global. Namun, ekspektasi masyarakat terhadap inflasi dinilai tetap terkendali sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang berlebihan.
Di sisi lain, inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food justru menunjukkan tren yang lebih terkendali. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 0,22 persen.
Komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras masih menjadi penyumbang tekanan harga akibat menurunnya produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Meski demikian, secara tahunan inflasi kelompok volatile food turun menjadi 5,58 persen dari sebelumnya 6,24 persen. Penurunan ini menunjukkan efektivitas berbagai program pengendalian inflasi pangan yang dijalankan pemerintah dan Bank Indonesia.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi nasional akan tetap berada dalam kisaran sasaran hingga 2027. Optimisme tersebut didukung oleh penguatan koordinasi kebijakan, stabilitas nilai tukar, serta berlanjutnya program pengendalian inflasi pangan di berbagai daerah.
Dengan kondisi tersebut, inflasi yang terjadi saat ini lebih mencerminkan penyesuaian ekonomi yang terkendali dibandingkan ancaman terhadap stabilitas makroekonomi nasional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
