Peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan bukan sekadar keputusan teknis, melainkan keputusan politik, ekonomi, dan moral. Ia mahal di awal, kompleks dalam pelaksanaan, dan kerap menuai skeptisisme. Tidak ada tepuk tangan untuk proses ini—yang ada hanyalah konsistensi dan ketekunan.
Namun justru dalam kesunyian itulah masa depan sedang disusun.

NTT dan Cahaya yang Terabaikan
Selama ini, Nusa Tenggara Timur terlalu sering diceritakan dalam bahasa kekurangan: kering, tertinggal, terpencar. Narasi ini bukan hanya menyederhanakan realitas, tetapi juga menutup kemungkinan.

Padahal, dalam lanskap transisi energi, NTT justru menyimpan keunggulan yang jarang dimiliki daerah lain: limpahan sinar matahari sepanjang tahun. Apa yang selama ini dianggap sebagai keterbatasan—lahan terbuka, wilayah kepulauan—justru dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan energi surya.

Di titik ini, gagasan percepatan PLTS 100 GW menemukan konteksnya.
NTT tidak seharusnya diposisikan sebagai “pelengkap penderita” dalam target nasional, tetapi sebagai simpul strategis. Energi surya menawarkan pendekatan yang lebih desentralistik, lebih fleksibel, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat—terutama di wilayah kepulauan yang selama ini sulit dijangkau oleh sistem energi terpusat.
Ini bukan sekadar pilihan teknologi. Ini adalah pilihan arah pembangunan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.