Bagi Rizal, anak SMP yang datang hanya dengan uang jajan seadanya, kata-kata itu mengandung makna. Ia belum punya motor. Bahkan, sepedanya pun rusak di rumah. Tapi ia percaya, di tahun-tahun mendatang, mungkin giliran dia yang berdiri di podium. Bukan lagi sebagai penonton, tapi sebagai pembalap kebanggaan Kupang.

Civic Center sedang dipoles menjadi pusat olahraga terpadu: lapangan bola, voli, basket, lintasan lari, hingga trek off-road. Semua ini menandakan satu hal: Kupang tak ingin diam. Kupang ingin bergerak.

Dan lewat Road Race Bupati Kupang Cup II, mereka telah membuktikan bahwa suara knalpot bukan sekadar bising. Ia bisa menjadi lagu kemenangan. Lagu tentang harapan yang menyala dari pelosok, dari anak-anak yang haus arah, dari generasi yang tak mau sekadar menonton nasib.

Karena dari debu lintasan itulah, jalan ke PON 2028 sedang dibangun—meter demi meter, mimpi demi mimpi.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.