“Bangsa Indonesia harus mampu menempatkan sejarah secara utuh, menghargai jasa, sekaligus mengakui sisi kelamnya, untuk memastikan masa depan yang lebih matang secara moral dan demokratis,” imbuh Andreas.
Ia menegaskan bahwa pahlawan bukan semata-mata gelar kehormatan. Pahlawan adalah simbol arah moral bangsa. Gelar itu hanya dapat diberikan jika memenuhi prinsip objektivitas sejarah, integritas moral, dan kontribusi berkelanjutan bagi kemajuan bangsa.
Dengan demikian, perdebatan tentang Soeharto bukan sekadar perdebatan tentang figur. Ini perdebatan tentang standard moral negara. Ini juga pengujian terhadap integritas institusional negara dalam menjaga memori sejarahnya, sekaligus memastikan bahwa pendidikan bangsa tidak dilukai oleh narasi kepahlawanan yang dipaksakan.
Para mahasiswa Sydney menutup dengan satu seruan yang secara akademik sangat relevan: negara tidak boleh mereduksi sejarah. Negara tidak boleh menormalisasi kekerasan atas nama stabilitas. Dan negara tidak boleh memutihkan masa lalu hanya demi kepentingan kekuasaan hari ini.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
