Menari di Padang Savana Fulan Fehan, Aurum Titu Eki Tunjukkan Semangat Persaudaraan NTT
FHC, Senja perlahan turun di hamparan Padang Savana Fulan Fehan, Kabupaten Belu. Langit berwarna jingga keemasan membentang luas di atas perbukitan yang menjadi salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah iringan musik tradisional dan gemuruh tepuk tangan ribuan pengunjung, sebuah momen hangat menarik perhatian publik.
Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, tampak larut dalam suasana Festival Fulan Fehan ke-4 Tahun 2026. Mengenakan busana yang memadukan nuansa budaya daerah, Aurum tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan.
Ia turun langsung ke arena pertunjukan dan menari bersama para penari tradisional yang memeriahkan festival budaya terbesar di kawasan perbatasan tersebut.
Senyum lepas dan gerakan yang mengikuti alunan musik daerah menciptakan suasana akrab antara pemimpin daerah dan masyarakat yang hadir. Tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen tersebut melalui telepon genggam mereka.
Dalam hitungan menit, foto dan video Aurum menari bersama para penari tradisional beredar luas di berbagai platform media sosial.
Bagi sebagian orang, tarian itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat NTT, kehadiran seorang pemimpin yang ikut menyatu dalam ruang budaya memiliki makna yang jauh lebih dalam. Tarian bukan sekadar hiburan, melainkan simbol penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Festival Fulan Fehan sendiri telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata paling bergengsi di NTT. Digelar di kawasan savana yang dikenal memiliki panorama alam spektakuler, festival ini menjadi wadah promosi budaya lokal sekaligus magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Keikutsertaan Aurum Titu Eki dalam tarian massal tersebut menunjukkan komitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya daerah. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, budaya lokal tetap menjadi identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Suasana semakin meriah ketika para penari mengajak tamu undangan lainnya untuk bergabung. Gelak tawa, tepuk tangan, dan sorak sorai masyarakat menyatu dengan irama musik tradisional yang menggema di antara bukit-bukit Fulan Fehan. Momen itu menjadi gambaran nyata bagaimana budaya mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa sekat.
Banyak pengunjung mengaku terkesan melihat pemimpin daerah yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Bagi mereka, kehadiran Aurum di tengah arena tarian menghadirkan kesan bahwa seorang pemimpin tidak hanya hadir dalam ruang formal pemerintahan, tetapi juga dalam ruang kebudayaan yang menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Festival Fulan Fehan selama ini dikenal bukan hanya sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga sarana memperkuat persaudaraan antarwilayah di Pulau Timor. Kehadiran berbagai delegasi daerah, komunitas budaya, pelaku UMKM, hingga wisatawan dari berbagai daerah menjadikan festival ini sebagai simbol kolaborasi dan kebanggaan masyarakat NTT.
Bagi Kabupaten Kupang, partisipasi Wakil Bupati Aurum Titu Eki dalam festival tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang saat ini terus didorong pemerintah daerah. Budaya dan pariwisata dinilai memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat identitas daerah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, momen seperti ini menghadirkan pesan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata. Pelestarian budaya, penguatan karakter masyarakat, dan kebanggaan terhadap identitas lokal juga menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat Fulan Fehan, tarian perlahan berakhir. Namun kesan yang ditinggalkan tetap membekas. Bagi masyarakat yang hadir, mereka tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan budaya, melainkan melihat bagaimana seorang pemimpin memilih hadir, menyatu, dan merayakan kekayaan budaya bersama rakyatnya.
Festival Fulan Fehan ke-4 Tahun 2026 sekali lagi membuktikan bahwa budaya adalah jembatan yang mampu menyatukan masyarakat, memperkuat persaudaraan, dan membangun optimisme untuk masa depan Nusa Tenggara Timur yang lebih maju. Dan di tengah gemuruh perayaan itu, langkah-langkah tarian Aurum Titu Eki menjadi simbol sederhana tentang kedekatan pemimpin dengan akar budaya yang membesarkannya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
