“Ada romansa dan kesenangan yang penuh gairah, lalu beberapa hari berjarak, ada penghindaran, ketidakpastian, dan pesan yang campur aduk pada hari-hari lainnya,” ujarnya.

Pola seperti ini ternyata memengaruhi cara kerja otak. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai intermittent reinforcement atau penguatan intermiten, yaitu bentuk penghargaan yang diberikan secara tidak konsisten.

Alih-alih mengurangi ketertarikan, pola tersebut justru membuat seseorang semakin terikat secara emosional. Otak terus berharap mendapatkan kembali pengalaman menyenangkan yang pernah dirasakan sebelumnya.

Akibatnya, ketika hubungan berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan orang yang disukai, tetapi juga kehilangan sumber sensasi emosional yang selama ini memberikan rasa bahagia.

Terapis Lindsey Brock menyebut kondisi ini mirip dengan proses penghentian zat adiktif.

“Ketika kamu tidak lagi mendapatkan lonjakan dopamin, kamu hancur. Karena itu muncul perasaan depresi dan kecemasan atas orang yang memberi rasa mabuk kepayang itu,” katanya.